logo-responsive

Implementasi Nilai Gotong Royong dapat Meningkatkan Kualitas Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara oleh Anang Nazaruddin

Implementasi Nilai Gotong Royong dapat Meningkatkan Kualitas Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara

Oleh

Anang Nazaruddin

Balai Diklat Keagamaan Banjarmasin

Tulisan sebagai tugas peserta ToT Nilai-Nilai Kebangsaan Lemhannas RI 2019

 

  1. Pendahuluan

      Kemajuan  pada zaman globalisasi menyebabkan perubahan pada diri individu warga bangsa Indonesia. Seperti  munculnya sikap individualis atau mementingkan diri sendiri. Gendhotwukir berpendapat hal ini disebabkan adanya faktor eksternal, meliputi  revolusi  industri,  transportasi,  teknologi,  dan  pasar  yang  bertahap  mengubah kondisi sosial (Wicaksono, 2019). Lebih jauh, Absa (2019) menyampaikan pengaruh teknologi yang menyebar hampir ke seluruh aspek kehidupan berakibat pada hilangnya kebiasaan gotong royong pada masyarakat sebab telah digantikan dengan teknologi modern dan kesibukan dalam urusan kerja yang hampir tak ada selesainya. Menyebabkan  peran  masyarakat  setempat  tidak  diperlukan  lagi,  lantas  memunculkan kondisi  dimana  masyarakat  banyak  yang  sibuk  dengan  urusannya  masing-masing  dan enggan melibatkan diri untuk membantu urusan orang lain.

      Bangsa Indonesia yang beragam, memiliki ciri khas yang sangat unik. Yang mana tidak dimiliki oleh negara lain manapun. Adalah gotong royong, sikap saling bahu membahu diantara individu yang satu dengan individu yang lain demi mencapai tujuan bersama.

      Gotong royong dapat diartikan sebagai suatu sikap ataupun kegiatan yang dilakukan oleh anggota masyarakat secara kerjasama dan tolong menolong dalam menyelesaikan pekerjaan maupun masalah dengan sukarela tanpa adanya imbalan. Sikap gotong royong ini telah melekat pada diri masyarakat pedesaan dan merupakan kebiasaan turun temurun dari nenek moyang. Sikap gotong royong ini sangat berperan sekali untuk memperlancar pembangunan yang berguna bagi kesejahteraan masyarakat dan mempererat hubungan masyarakat.

 

  1. Pembahasan

            Gotong royong merupakan budaya yang telah tumbuh  dan berkembang dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia sebagai warisan budaya yang telah eksis secara turun-temurun (Sartono Kartodijo, 1987).  Gotong royong merupakan bentuk kerja sama sekelompok masyarakat untuk mencapai suatu tujuan yang telah disepakati melalui musyawarah bersama. Gotong-royong muncul atas dorongan keinsyafan, kesadaran dan semangat untuk mengerjakan serta menanggung akibat dari suatu karya, terutama yang benar-benar, secara bersama-sama, serentak dan beramai-ramai, dengan mengesampingkan kepentingan  bagi dirinya sendiri, melainkan selalu untuk kebahagian bersama,     seperti     terkandung     dalam     istilah  ‘Gotong’ Tubapi (Tubapi : 139-154) membagi hasil karyanya, masing-masing anggota mendapat dan menerima bagian-bagiannya sendiri-sendiri sesuai dengan tempat dan sifat sumbangan karyanya masing- masing, seperti tersimpul dalam istilah ‘Royong’. Maka setiap individu yang memegang prinsip dan memahami roh gotong royong secara sadar bersedia melepaskan sifat egois. Gotong royong harus dilandasi dengan semangat keihklasan, kerelaan, kebersamaan, toleransi dan kepercayaan. Singkatnya, gotong royong lebih bersifat intrinsik yakni interaksi sosial dengan latar belakang kepentingan atau imbalan non-ekonomi.

            Gotong-royong adalah suatu faham yang dinamis, menggambarkan usaha bersama, suatu amal, suatu pekerjaan atau suatu karya bersama, suatu perjuangan bantu membantu. Gotong-royong adalah amal dari semua untuk kepentingan semua atau jerih payah dari semua untuk kebahagian bersama.  Dalam  azas  gotong-royong  sudah tersimpul   kesadaran   bekerja   rohaniah   maupun kerja jasmaniah dalam usaha atau karya bersama yang mengandung didalamnya keinsyafan, kesadaran dan sikap jiwa untuk menempatkan serta menghormati kerja sebagai kelengkapan dan perhiasan kehidupan. Dengan berkembangnya tata  kehidupan  dan  penghidupan  Indonesia menurut zaman, gotong-royong yang pada dasarnya adalah suatu azas tata kehidupan dan penghidupan Indonesia asli dalam lingkungan masyarakat yang serba sederhana mekar menjadi Pancasila. Prinsip gotong royong melekat subtansi nilai-nilai ketuhanan,  musyawarah  dan  mufakat, kekeluargaan, keadilan dan toleransi (peri kemanusiaan) yang merupakan basis pandangan hidup atau sebagai landasan filsafat Bangsa Indonesia.

            Koentjaraningrat (1990: 59) mengemukakan aktivitas tolong menolong yang merupakan salah satu pembagian gotong royong berdasarkan fungsinya tampak dalam aktivitas kehidupan masyarakat, meliput :

  1. Tolong menolong antartetangga, untuk pekerjaan-pekerjaan kecil di sekitar rumah dan pekarangan, misalnya: menggali sumur, meng-ganti dinding bambu rumah, dan sebagainya.
  2. Tolong menolong antara kerabat (beberapa tetangga terdekat) untuk menyelenggarakan sunat, perkawinan atau upacara-upacara adat lain.
  3. Tolong menolong spontan tanpa permintaan dan pamrih seperti pada waktu seorang penduduk desa mengalami bencana atau kematian.

            Dalam perspektif sosiologi budaya, nilai gotong royong adalah semangat yang diwujudkan dalam bentuk perilaku atau tindakan individu yang dilakukan tanpa mengharap balasan untuk melakukan sesuatu secara bersama-sama demi kepentingan bersama atau individu tertentu. Gotong royong menjadikan kehidupan manusia Indonesia lebih berdaya dan sejahtera. Dengan gotong royong, berbagai permasalahan kehidupan bersama bisa terpecahkan secara mudah dan murah, demikian halnya dengan kegiatan pembangunan masyarakat.

            Jika dilihat sekilas, gotong royong tampaknya hanya terlihat seperti suatu hal yang mudah dan sederhana. Namun dibalik kesederhanaannya tersebut, gotong royong menyimpan berbagai nilai yang mampu memberikan nilai positif bagi masyarakat (Ciputrauceo, 2019). Nilai-nilai positif dalam gotong royong antara lain:

  1. Dengan gotong royong, masyarakat mau bekerja secara bersama-sama untuk membantu orang lain atau untuk membangun fasilitas yang bisa dimanfaatkan bersama.
  2. Kebersamaan yang terjalin dalam gotong royong sekaligus melahirkan persatuan antar anggota masyarakat. Dengan persatuan yang ada, masyakarat menjadi lebih kuat dan mampu menghadapi permasalahan yang muncul. 
  3. Rela berkorban. Gotong royong mengajari setiap orang untuk rela berkorban. Pengorbanan tersebut dapat berbentuk apapun, mulai dari berkorban waktu, tenaga, pemikiran, hingga uang. Semua pengorbanan tersebut dilakukan demi kepentingan bersama. Masyarakat rela mengesampingkan kebutuhan pribadinya untuk memenuhi kebutuhan bersama. 
  4. Tolong menolong. Gotong royong membuat masyarakat saling bahu-membahu untuk menolong satu sama lain. Sekecil apapun kontribusi seseorang dalam gotong royong, selalu dapat memberikan pertolongan dan manfaat untuk orang lain. 
  5. Gotong royong dapat membuat manusia kembali sadar jika dirinya adalah maskhluk sosial. Gotong royong membuat masyarakat saling mengenal satu sama lain sehingga proses sosialisasi dapat terus terjaga keberlangsungannya. 

            Adapun Gotong royong merupakan budaya masyarakat yang akan memberikan banyak sekali keuntungan. Keuntungan tersebut antara lain:

  1. Meringankan beban pekerjaan yang harus ditanggung. Semakin banyak orang yang terlibat dalam usaha membangun atau membersihkan suatu lingkungan, maka akan semakin ringan pekerjaan dari masing-masing individu yang terlibat di dalamnya
  2. Menumbuhkan sikap sukarela, tolong-menolong, kebersamaan, dan kekeluargaan antar sesama anggota masyarakat.
  3. Menjalin dan membina hubungan sosial yang baik dan harmonis antar warga masyarakat.
  4. Dalam skala besar dapat meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan nasional.

            Salah satu upaya yang bisa ditempuh untuk menumbuhkan kembali gotong royong adalah dengan meningkatkan kemampuan (capacity building) menekankan pada otonomi (kemandirian) komunitas lokal dalam pengambilan keputusan,  keswadayaan lokal  (local  self-reliance) yang bersifat partipatoris (demokrasi), melalui pemberdayaan  dan  adanya  proses  pembelajaran sosial. Ini dapat diartikan sebagai upaya sistematis terencana untuk meningkatkan  kemampuan  serta memberikan kewenangan dan otoritas pada masyarakat (komunitas) lokal sehingga mereka dapat memutuskan secara demokrasi partisipatif dengan mengutamakan mufakat dan musyawarah apa yang dibutuhkan untuk memperbaiki kehidupan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan. Campur tangan  kekuatan  eksternal  perlu  disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat.

  • Kesimpulan

          Bahasan di atas mengarahkan pada pemahaman bahwa gotong royong telah tumbuh dan berkembang dalam masyarakat kita sejak lama. Gotong royong merupakan bentuk solidaritas sosial, karena adanya bantuan dari pihak lain untuk kepentingan pribadi ataupun kelompok sehingga terdapat sikap loyal setiap warga sebagai satu kesatuan. Bisa dikatakan gotong royong merupakan kegiatan yang dilakukan bersama-sama tanpa pamrih untuk suatu tujuan. Gotong royong lahir dari kesadaran diri sendiri tanpa paksaan atau perintah yang dapat meringankan pekerjaan, juga menumbuhkan rasa persaudaraan sesama warga. Sehingga juga dapat meningkatkan kualitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

 

 

 

 

 

Referensi

 

Absa,  T.  F.  Habis  Gotong  Royong  Terbitlah  Individualisme.  (2019).  Diakses  dari  https://kabartangsel.com/habis-gotong-royong-terbitlah-individualisme/ pada   20 Juli 2019.

Ciputrauceo, (2019) diakses dari http://ciputrauceo.net/blog/2016/2/15/gotong-royong-dan-manfaat-gotong-royong-bagi-kehidupan pada   20 Juli 2019.

Koentjaraningrat. (1990). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.Miles, M. B. Dan Huberman.1992.Analisis Data Kualitatif.Jakarta: UI Press.

Sartono Kartodijo, 1987, “Gotong -royong: Saling Menolong Dalam Pembangunan Masyarakat Indonesia, dalam Callette, Nat.J dan Kayam, Umar (ed), Kebudayaan dan Pembangunan: Sebuah Pendekatan Terhadap Antropologi Terapan di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor.

Tudjuh Bahan2 Pokok Indoktrinasi (Tubapi). Dewan Pertimbangan Agung. 1960.

Wicaksono, A. (2019). Ini Penyebab Orang Kota Sering Dicap Individualis. Diakses dari http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/08/30/ocpa9m382-ini– penyebab-orang-kota-sering-dicap-individualis pada 20 Juli 2019.