logo-responsive

MENGEMBANGKAN BAHAN AJAR BERBASIS MATEMATIKA REALISTIK UNTUK SISWA MI/SD oleh Anang Nazaruddin

MENGEMBANGKAN BAHAN AJAR BERBASIS MATEMATIKA REALISTIK

UNTUK SISWA MI/SD

 

Oleh

Anang Nazaruddin

Wiyaiswara Ahli Muda

 

 

A. Pendahuluan

Dalam  kehidupan  berbangsa  dan  bernegara  untuk  menjadi  suatu  negara  yang  maju diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dapat dibentuk dari pendidikan yang berkualitas pula. Sementara itu pendidikan formal diindonesia dimulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas hingga perguruan tinggi.

Pendidikan formal diindonesia sendiri dirasa kurang efektif sebab dalam praktiknya banyak pengajar yang kurang mampu mengolah materi dengan baik dan menarik. sedangkan menurut  undang – undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, mengatakan bahwa guru yang profesional diharapkan dapat melaksanakan tugasnya, mampu menunjukkan kemampuannya yang ditandai dengan penguasaan materi kompetensi akademik kependidikan dan kompetensi substansi dan atau bidang studi sesuai bidang ilmunya. Salah satu indikator guru yang profesional adalah mampu mengembangkan atau menetapkan dan menggunakan pendekatan, metode, model pembelajaran yang tepat dengan materi yang diajarkan.

Seorang guru harus mampu mengolah materi dengan baik dan menarik. Kebanyakan guru masih terpaku dalam menggunakan pendekatan konvensional. Dimana dalam pendekatan konvensional sendiri guru yang mendominasi yakni guru yang menyampaikan materi, menjelaskan isi dari materi tersebut sehingga pembelajaran terkesan monoton. Hal tersebut sangat erat hubungannya dengan karakteristik pada peserta didik, menurut Piaget perkembang berfikir anak terbagi dalam beberapa tahap yakni pada usia 0-2 tahun (sensomotor), 2-7 tahun (praoperasional), 7-11 tahun (operasi konkrer) dan usia 11 tahun lebih (operasi formal). Pada setiap tahapan tersebut menunjukan perilaku yang unik, dinamis dan menjadi ciri psikologis dari perilaku belajar pada rentang usia tersebut.

Peserta didik merupakan salah satu komponen penting dalam dunia pendidikan. Dalam beberapa tingkat sekolah, salah satunya adalah Usia Sekolah Dasar (SD) yang merupakan usia antara 6-12 tahun. Menurut Syamsuddin (2009:103) perilaku kognitif pada usia Sekolah Dasar adalah, “Kemampuannya dalam proses berpikir untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika meskipun masih terikat dengan objek-objek yang bersifat konkret”. Usia ini merupakan awal mula peserta didik banyak menerima materi baru yang berkaitan dengan logika seperti matematika. Menurut Abdurahman (2003:74), “Matematika adalah bahasa simbolis untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitafif dan keruangan, yang memudahkan manusia berpikir dalam memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-harinya.” Matematika masih dianggap sukar oleh sebagian peserta didik karena beberapa hal, diantaranya adalah karena banyaknya rumus yang digunakan maupun metode pembelajaran yang digunakan oleh guru kurang menyenangkan sehingga membuat peserta didik yang tidak suka pelajaran tersebut cepat merasa jenuh dan bosan. Hal tersebut membuat para guru resah karena mengakibatkan rendahnya hasil belajar matematika.

Kualitas guru juga dituntut untuk selalu kreatif dan inovatif dalam menyusun kegiatan pembelajaran. Mulai dari metode dan bahan ajar yang digunakan maupun alat pengukuran hasil belajar. Sebagai seorang guru, pengukuran kualitas guru tidak hanya berdasarkan pada penguasaan materi saja, tetapi guru juga dituntut agar lebih kreatif dan inovatif. Tujuan dari  guru yang  kreatif  dan inovatif adalah  guru  diharapkan mampu membuat kegiatan pembelajaran yang lebih menyenangkan dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan dengan menyesuaikan peserta didik yang diajarkannya.

Salah satu hal yang berpengaruh dalam pencapaian kompetensi mengajar adalah pembelajaran  yang  efektif.  Pembelajaran  yang  efektif  merupakan  pembelajaran  yang  hasilnya sesuai dengan tujuan pembelajaran. Desain pembelajaran juga dibuat sedemikian rupa   agar   kegiatan   pembelajaran   dapat   berjalan   efektif.   Menurut   Hamzah   dan Muhlisrarini (2014:309) “Desain Pembelajaran adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk menentukan pendekatan pembelajaran apa yang paling baik dilaksanakan agar menimbulkan perubahan pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik ke arah yang dikehendaki.” Hal ini dapat diartikan bahwa salah satu hal yang berpengaruh dalam pembelajaran yang efektif adalah desain pembelajaran yang dibuat sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan dilakukan demi tercapainya tujuan pembelajaran.

Dari hasil pengamatan dibeberapa madrasah ibtidaiyah dimana para siswa masih suka bermain dan kurang memperhatikan penjelasan guru. Sehingga dibutuhkan desain pembelajaran yang baik. Terutama dalam penyampaian materi agar tidak terkesan membosankan.

Hal tersebut dapat terjadi pula dalam pembelajaran matematika dikelas V MI hal ini sejalan dengan pendapat suryanto (Tojibah: 2015) pembelajaran matematika saat ini banyak disajikan sebagai barang jadi, yaitu sebagai sistem deduktif. Tugas peserta didik adalah menghafal definisi dan teorema, mengerjakan soal-soal atau berlatih menerapkan rumus-rumus.

Pembelajaran atau pengajaran menurut Degeng (Hamzah, 2014: 2) adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Dalam pengertian secara implisit pengajaran merupakan kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pengajaran yang diinginkan.

Pemilihan, penetapan, dan pengembangan metode ini didasarkan pada kondisi pengajaran yang ada.  Adapun  hal-hal  yang  perlu  diperhatikan  untuk  mencapai  tujuan  pembelajaran  adalah bagaimana cara mengorganisasikan pembelajaran, bagaimana menyampaikan isi pembelajaran, dan bagaimana menata interaksi antara sumber-sumber belajar yang ada agar dapat berfungsi secara optimal.

Untuk memperbaiki kualitas pembelajaran yang ada, diperlukan perancangan pembelajaran atau yang biasa kita sebut dengan desain pembelajaran yang baik terutama yang berbasis reaslistik. Jenning & Dunne (1999) menyatakan bahwa kebanyakan siswa mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan matematika kedalam situasi kehidupan nyata. Hal lain yang menyebabkan matematika dirasakan sulit oleh siswa adalah proses pembelajarannya yang kurang bermakna. Guru juga dalam pembelajarannya tidak mengaitkan materi yang diajarkan dengan skema yang telah dimiliki siswa, dan siswa kurang diberikan kesempatan menemukan kembali dan mengkonstruksi sendiri ide-ide matematika. Mengaitkan pengalaman kehidupan nyata siswa dengan ide-ide matematika dalam pembelajaran di kelas penting dilakukan agar pembelajaran bermakna  (Soejadi, 2005).  Berdasarakan temuan masalah di atas lah penulis menyusun kajian ini. Semoga bisa bermanfaat terutama bagi penulis dan orang lain.

 

B. Pembahasan

  1. Pembelajaran Matematika di Madrasah Ibtidaiyah/Sekolah Dasar

            Menurut  Dimiyati  dan  Mudjiono  (Sobry,  2014:  11)  pembelajaran  dapat  diartikan  juga sebagai kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa. dalam pengertian lain, pembelajaran menurut Winkel (Sobry, 2014: 12) merupakan seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar peserta didik, dengan memperhitungkan kejadian-kejadian eksternal yang berperan terhadap serangkaian kejadian-kejadian internal yang berlangsung didalam peserta didik. Degeng (Sobry, 2014: 12) mengartikan pembelajaran sebagai upaya untuk membelajarkan pembelajar.

            Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah segala upaya yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi prose belajar pada diri peserta didik. Secara implisit didalam pembelajaran, ada kegiatan memilih, menetapkan dan mengembangkan metode dan model untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan.

            Menurut Dienes (Hasbullah, 2014: 3) menyatakan bahwa setiap konsep matematika dapat dipahami dengan mudah apabila kendala utama yang menyebabkan anak sulit memahami dapat dikurangi atau dihilangkan. Dienes berkeyakinan bahwa anak pada umumnya melakukan abstraksi berdasarkan   intuisi   dan   pengalaman   konkret,   sehingga   cara   mengajarkan   konsep-konsep matematika dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan objek konkret. Bruner (Hasbullah, 2014: 3) menyatakan bahwa mengetahui adalah proses bukan produk. Oleh  karena  itu  pembelajaran  matematika  akan  lebih  menarik  jika  siswa  dilibatkan  melalui interaksi langsung dengan lingkungan. Sedangkan  menurut  Hudoyo  (Tilaar,  2011:  187)  mengatakan  bahwa  belajar matematika merupakan  kegiatan  mental  yang tinggi,  sehingga  dalam mengajarkan  matematika  guru  harus mampu memberikan penjelasan dengan baik sehingga konsep – konsep matematika yang abstrak

dapat dipahami siswa. keabstrakan matematika dapat digambarkan sebagai berikut:

  1. Objek matematika adalah abstrak yang terdiri dari fakta, konsep, operasi dan prinsip.
  2. Matematika menggunakan simbol – simbol, sehingga kemungkinan belajar materi matematika dapat memasuki wilayah bidang studi atau cabang ilmu yang lain.
  3. Berfikir secara matematika dilandasi oleh kesepakatan – kesepakatan yang disebut aksioma, sehingga matematika bersifat aksiomatik.
  4. Belajar matematika dengan cara menalar matematika deduktif.

            Dari   pendapat   tersebut   dapat   disimpulkan   bahwa   dalam   pembelajaran   matematika merupakan kegiatan yang menarik jiwa karena mempelajari dalam bentuk konsep, objek – objek dan juga simbol yang bersifat abstrak.

  1. Teori Pengembangan Desain Pembelajaran

            Desain Pembelajaran adalah format yang berisi langkah – langkah yang harus dikerjakan oleh guru dalam merancang proses pembelajaran. Desain Pembelajaran sekurang – kurangnya memuat :

  1. Judul atau Tema yang akan dipelajari
  2. Mata pelajaran
  3. Kompetensi yang akan dicapai ( Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar)
  4. Kelas dan Semester
  5. Alokasi waktu
  6. Peralatan/bahan/sumber belajar
  7. Langkah pembelajaran
  8. Penilaian

            Menurut Pribadi (Suparman, 2012: 105) menyatakan Bahwa “Penerapan Desain Sistem pembelajaran bertujuan untuk menciptakan pembelajaran yang sukses, yaitu pembelajaran yang mampu membantu siswa mencapai kompetensi yang diinginkan”. Pengembangan Desain   Pembelajaran   adalah   serangkaian   proses   atau   kegiatan   yang dilakukan untuk menghasilkan suatu desain pembelajaran guna memperbaiki desain pembelajaran yang telah ada agar lebih efektif.

            Pembelajaran lebih menekankan pada bagaimana cara agar tercapainya tujuan pembelajaran tersebut. Adapun hal-hal yang tidak bisa dilupakan untuk mencapai tujuan adalah bagaimana cara mengorganisasikan pembelajaran, bagaimana menyampaikan isi pembelajaran, dan bagaimana menata interaksi antara sumber – sumber belajar yang ada agar dapat berfungsi secara optimal.

  1. Pendidikan Matematika Realistik (PMR)

            Pendidikan matematika realistik merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran matematika yang didasari pandangan bahwa matematika sebagai aktivitas manusia (Gravemeijer, 1994). Menurut Freudenthal       (1973) matematika sebagai aktivitas manusia.Aktifitas manusia yang dimaksud meliputi mencari masalah, mengorganisasikan materi yang relevan, membuat model matematika, penyelesaian masalah, mengorganisasikan ide-ide baru dan pemahaman baru yang sesuai dengan konteks  (Freudenthal  dalam  (Haji, 2005: 33).  Sebagai  aktivitas  manusia, matematika berhubungan dengan dunia nyata Soedjadi (Haji, 2005: 34) Menyatakan bahwa pendidikan matematika realistik pada hakikatnya adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran matematika yang menggunakan   realitas   dan   lingkungan yang dipahami peserta didik untuk memperlancar proses pembelajaran matematika sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan matematika secara lebih baik daripada masa yang lalu.

            Dalam  pendidikan  matematika realistik, dunia nyata. (real world) digunakan sebagai titik awal untuk mengembangkan ide dan konsep matematika. Dunia nyata adalah segala sesuatu di luar matematika, seperti mata pelajaran lain selain matematika, atau kehidupan sehari-hari dan lingkungan sekitar  kita  (Blum  &  Niss,  1989  (Nadi, 2005)). Sementara De lange (1996) mendefinisikan dunia nyata sebagai suatu dunia nyata yang konkrit, yang disampaikan  kepada  siswa  melalui aplikasi matematika. Begitulah cara kita memahami   proses   belajar   matematika yang terjadi pada siswa, yaitu terjadi pada situasi  nyata.  Proses  pengembangan konsep dan ide matematika dimulai dari dunia real oleh De Lange (1996) disebut “matematisasi konsep”.

            Selanjutnya, menurut Gravemeijer (1994) terdapat tiga prinsip utama dalam pembelajaran dengan pendekatan realistik. Ketiga prinsip yang dimaksud adalah penemuan terbimbing dan bermatematika secara progresif (guided reinvention and progressive mathematization), fenomena pembelajaran   (didactical phenomenology), pengembangan model mandiri (self-developed model).

            Pertama, prinsip penemuan terbimbing dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan sendiri konsep-konsep matematika melalui proses matematisasi masalah kontekstual. Dengan guided reinvention and progressive mathematization siswa diarahkan untuk menemukan cara dalam menyelesaikan suatu masalah dalam matematika. Cara tersebut dapat sama dengan cara ilmuan sebelumnya dan dapat pula cara “baru” yang ditemukan oleh siswa sendiri. Untuk dapat memotivasi siswa dalam melakukan penemuan kembali ide maupun konsep dalam matematika, siswa diberikan masalah  kontekstual  maupun  materi sejarah matematika. Sejarah matematika dapat menunjukkan kepada siswa bagaimana cara kerja para matematikawan dalam menemukan ide-ide matematika. Dengan strategi penyelesaian yang dibuat siswa,  maka  dapat  mendorong pemahaman konseptual dan meningkatkan kemampuan berfikir matematika mereka (Fraiviling&Fuson dalam Haji, 2005).

            Kedua, prinsip fenomena pembelajaran (didactical phenomenology) menunjukkan bahwa proses .pemahaman matematika oleh   siswa   berlangsung   secara   alami sesuai  dengan  nilai-nilai  pendidikan dengan memanfaatkan fenomena yang terjadi pada diri siswa dan lingkungannya. Melalui fenomena-fenomena dalam kehidupan sehari-hari dapat dimunculkan topik matematika yang mengandung berbagai konsep maupun algoritma (Haji,

2005).

            Pengembangan model mandiri (self-developed model) dalam pendidikan matematika realistik diusahakan dapat mengembangkan  dan  memunculkan model-model yang ditemukan oleh siswa melalui pengarahan dari guru berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya, mulai dari model pemecahan yang informal (model of) menuju ke model yang formal (model for) dalam bentuk model matematika maupun rumus- rumus dalam matematika (Haji, 2005).

            Peran guru pada pembelajaran dengan pendekatan pendidikan      matematika realistik  sebagai  fasilitator,  pembimbing, atau teman  belajar      yang lebih berpengalaman, yang tahu kapan memberikan bantuan   (scaffolding) dan bagaimana caranya membantu agar proses konstruksi   dalam pikiran siswa dapat berlangsung (Marpaung, 2001). Dalam hal ini  tugas guru tidaklah ringan. Sebelum pembelajaran dimulai guru harus membuat  rencana  dan  persiapan mulai dari menentukan konsep yang  akan diajarkan, mencari dan menentukan masalah kontekstual  yang sesuai dengan topik tersebut, dan merencanakan strategi pembelajaran yang cocok (tidak monoton, kadang individual atau kelompok, dan sebagainya). Setelah  pembelajaran, guru melakukan refleksi, membuat catatan-catatan dan  penilaian  (informal  maupun formal) terhadap siswa.

 

  1. Penutup

      Penyusunan desain pembelajaran hendaknya menyesuaikan dengan tingkat kemampuan peserta didik dalam menerima bahan permbelajaran yang disampaikan, sehingga bisa meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Dalam menyusun desain pembelajaran juga diharapkan menerapkan pendekatan pendidikan matematika realistik dalam upaya meningkatkan komunikasi matematis siswa. Karena seperti telah diketahui bahwa PMR signifikan lebih baik untuk meningkatkan  kemampuan komunikasi matematis dibandingkan dengan pendekatan konvensional (ekspositori).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi

 

Abdurahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Frudenthal, H. (1991). Revisiting Mathematics  Education.  China Lectures. Dordrecht : Kluwer

Gravemeijer, K.P.E. (1994). Developing Realistics Mathematics Education. Utrecht: CD-B press. Fruedenthal Institute.

Hamzah    dan    Muhlisrarini.    2014.    Perencanaan    Dan    Strategi    Pembelajaran Matematika. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Hadi, Soejadi. (2005). Pendidikan Matematika Realistik dan Implementasinya. Banjarmasin : Tulip.

Haji, S. (2005). Pengaruh Pendekatan Matematika Realistik terhadapa Hasil Belajar Matematika di Sekolah Dasar. Disertasi. PPs Unsri Bandung. Tidak di Publikasikan.

Jennings, Sue & R, Dunne.1999. Math Stories,Real Stories, Real-life Stories. http://www.ex.ac.uk/telematics/T3/maths/actar01.htm.

Hasbullah. 2014. Media Pembelajaran Matematika. Jakarta: Savitra Collage

Jennings, Sue & R, Dunne.1999. Math Stories,Real Stories, Real-life Stories. http://www.ex.ac.uk/telematics/T3/maths/actar01.htm.

LF.Tilaar,   Anetha.   2011.   Efektivitas   pembelajaran   kontekstual   dalam  mengajarkan matematika. Jurnal Formatif, 1 (3): 187-188.

Marpaung,  Y.  (2001).  Pendekatan Realistik dalam pembelajaran Matematika. Makalah disampaikan pada seminar nasional tentang Pendidikan Matematika Realistik tanggal 14-15 November 2001. Yokyakarta. Tidak diterbitkan.

Suparman, M. Atwi. 2012. Desain Instruksional Modern. Jakarta: Erlangga.

Sutikno, M.Sobry. 2014. Metode & Model-model Pembelajaran. Lombok: Holistica.