Top
    bdkbanjarmasin@kemenag.go.id
(0511) 4705071
INTEGRITAS SEORANG PEMIMPIN ( M. Yudhil Khairi )

INTEGRITAS SEORANG PEMIMPIN ( M. Yudhil Khairi )

Rabu, 11 November 2020
Kategori : Artikel Ilmiah
3684 kali dibaca

O  L  E  H

Muhammad Yudil Khairi

(Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Banjarmasin)

 

 

PENDAHULUAN

     Dalam era reformasi pembangunan bangsa saat ini disadari bahwa ketersediaan sumber daya alam dari suatu negara belum pasti menjamin bahwa negara itu akan menjadi kaya atau miskin. Jepang misalnya mempunyai area yang sangat terbatas, di mana daratannya delapan puluh persen berupa pegunungan dan tidak cukup untuk meningkatkan pertanian dan peternakan tetapi, saat ini Jepang menjadi raksasa ekonomi nomor dua di dunia. Jepang laksana suatu negara “industri terapung” yang besar sekali, mengimpor bahan baku dari semua negara di dunia dan mengekspor barang jadinya. Demikian halnya Swiss tidak mempunyai perkebunan coklat tetapi sebagai negara pembuat coklat terbaik di dunia. Negara Swiss sangat kecil, hanya sebelas persen daratannya yang bisa ditanami. Swiss juga mengolah susu dengan kualitas terbaik. (Nestle adalah salah satu perusahaan makanan terbesar di dunia). Bank-bank di Swiss juga saat ini menjadi bank yang dapat memberikan jaminan keamanan bagi pada penanam modal di dunia.

     Para eksekutif dari negara maju yang berkomunikasi dengan temannya dari negara terbelakang akan sependapat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal kecerdasan. Para imigran yang dinyatakan pemalas di negara asalnya ternyata menjadi sumber daya yang sangat produktif di negara-negara maju dan kaya di Eropa. Suku, agama, ras atau warna kulit juga bukan merupakan faktor penting. Lalu, apa perbedaannya? Perbedaannya adalah pada sikap atau perilaku masyarakatnya, yang telah dibentuk sepanjang tahun melalui kebudayaan dan pendidikan. Berdasarkan analisis atas perilaku masyarakat di negara maju, ternyata bahwa mayoritas penduduknya sehari-harinya mengikuti dan mematuhi prinsip-prinsip dasar kehidupan dimana salah satu dari prinsip dasar itu adalah integritas diri.

        Di dalam integritas terkandung makna konsistensi antara tindakan dan nilai, sehingga integritas dari setiap pemimpin menjadi hal yang mutlak sebagai landasan yang professional dalam melaksanakan tugas organisasi dan melayani masyarakat. Integritas perlu dimiliki oleh setiap pemimpin yang terlibat langsung di dalam organisasi, tanpa integritas organisasi tidak dapat berjalan secara efektif dan efisien dalam mewujudkan visi dan misi pelayanannya, hal ini tentunya di dukung oleh seorang pemimpin yang memiliki jiwa integritas, tanpa adanya integritas dari pemimpin sebagai pengendali organisasi atau pengarah, maka pemimpin tersebut akan mudah kehilangan kepercayaan dari bawahannya.

      Kepemimpinan yang dibangun atas kekuatan berpikir dengan kebiasaan yang produktif yang dilandasai oleh kekuatan moral berarti ia memiliki “Integritas” untuk bersikap dan berperilaku sehingga ia mampu memberikan keteladanan untuk mempengaruhi orang lain untuk melakukan perubahan yang terkait dengan proses berpikir. Oleh karena itu seseorang yang memiliki kepemimpinan yang mampu menerapkan arti dan makna integritas berarti ia meyakini benar bahwa jika hanya orang yang kuat yang dapat bertahan dan keinginan menghambat kemajuan orang, menjadi kaum penjilat, bermuka dua, tidak akan menjadi orang yang mampu mengikuti perubahan.

        Sesuai dengan apa yang dibicarakan diatas, maka yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah sebagai berikut:

  1. 1.Apa itu Integritas seorang pemimpin?
  2. 2.Bagaimana cara membangun integritas?
  3. 3.Apa saja karakteristik interigritas seorang pemimpin?
  4.  

PEMBAHASAN

  1. Pengertin Integritas Seorang Pemimpin

     Integritas berasal dari bahasa Latin : integer, incorruptibility, firm adherence to a code of especially morala acristic values, adalah sikap yang teguh mempertahankan prinsip tidak mau korupsi, dan merupakan dasar yang melekat pada diri sendiri sebagai bentuk nilai-nilai moral. Integritas bukan hanya sekedar bicara, pemanis retorika, tetapi juga sebuah tindakan. Bila kitamenelusuri karakter yang dibutuhkan para pemimpin saat ini dan selamanya mulai dari integritas, kredibilitas dan segudang karakter mulia yang lainnya pastilah akan bermuara pada sosok pribadi manusia yang sejak lahirnya telah menjadi pilihan Tuhan untuk menjadi pemimpin yang berguna, bermartabat dan memiliki integritas yang baik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata integritas mengandung pengertian yaitu mutu, sifat atau keadaan yang menunjukan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan, kejujuran. Pengertian Integritas nasional adalah suatu wujud keutuhan akan prinsip moral dan etika bangsa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

      Dedi Mahardi (2015) dalam bukunya integritas bangsaku, memaknai integritas merupakan suatu sikap yang merujuk pada konsistensi antara tindakan dengan nilai-nilai dan prinsip kebaikan serta ucapan. Sementara itu beberapa penjelasan mengenai integritas menurut Dr. Phill Pringle (2001) dalam bukunya Top 10 Qualities of A Great Leader adalah sebagai berikut:

  1. Integritas berasal dari sikap tidak mementingkan diri sendiri;
  2. Integritas dibangun di atas dasar disiplin;
  3. Integritas adalah kekuatan moral yang terbukti tetap benar di tengah api godaan;
  4. Integritas adalah kemampuan untuk bersabar ketika hidup ini tidak berjalan mulus;
  5. Integritas adalah tahan uji yang memerlukan perilaku yang dapt diduga;
  6. Integritas adalah kekuatan yang tetap teguh sekalipun tidak ada yang melihat.

      Dalam pandangan etika, integritas dapat diartikan juga sebagai kejujuran dankebenaran dari tindakan seseorang. Lawan dari integritas adalah hipocrisy (hipokrit atau munafik).Seorang dikatakan “mempunyai integritas” apabila tindakannya sesuai dengan nilai-nilai, keyakinan, dan prinsip yang dipegangnya (Wikipedia). Untuk dapat menilai karakternya,pemimpin yang berintegritas biasanya ditandai dengan satunya kata dan perbuatan bukan seorang yang kata-katanya tidak dapat dipegang. Seorang yang mempunyai integritas bukan tipe manusiadengan banyak wajah dan penampilan yangdisesuaikan dengan motif dan kepentingan pribadinya. Integritas dan kepemimpinan mempunyai hubungan yang sangat erat satu sama lain. (Stephen R Covey, 2006). Menyebutkan bahwa integrity is doing what we say will do. Seorang pemimpin harus dapat bertindak secara konsisten antara kata dan perbuatan. Integritas menjadi karakter kunci bagi seorang pemimpin dan seorang pemimpin yang mempunyai integritas akan mendapatkan kepercayaan (trust) dari pegawainya. Pimpinan yang berintegritasdipercayai karena apa yang menjadi ucapannya juga menjaditindakannya. Untuk mewujudkannya memerlukan kerja keras, dengan bermodalkan integritas dalam kepemimpinan, dimana seorang pimpinan harus menggabungkan seluruh potensi yang ada dalamdirinya untuk menjadi suatu kesatuan yang saling mendukung satu sama lainnya. Potensi tersebuat antara lain kognitif, afektif, dan psikomotor. Dengan memiliki potensi ini akan menjadikan dirinya secara holistik sebagai seorang pemimpin.

     Integritas berartimutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Seseorang yang memiliki integritas pribadi akan tampil penuh percaya diri, anggun, tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang sifatnya hanya untuk kesenangan sesaat. Pemimpin Aparatur Sipil Negara (ASN) yang memiliki integritas lebih berhasil ketika dipercayakan oleh atasannya untuk menjadi seorang pemimpin, baik pemimpin formal maupun pemimpin nonformal. Dalam pandangan tentang hal ini Stephen R.Covey membedakan antara kejujuran dan integritass “honesty is telling the truth, in other word, conforming our words reality-integrity is conforming to our words, in other words, keeping promises and ful-filling expectations.”Kejujuran berarti menyampaikan kebenaran, ucapannya sesuai dengan kenyataan. Sedang integritas membuktikan tindakannya sesuai dengan ucapannya. Orang yang memiliki integritas dan kejujuran adalah orang yang merdeka. Mereka menunjukan keauntetikan dirinya sebagai orang yang tanggung jawab dan berdedikasi tinggi.

    Seorang pemimpin yang memiliki “integritas”, maka ia akan menyadari benar bahwa hukum rimba memang tidak pernah jelas, itu tidak berarti ia akan mempergunakan dengan dalih kekuasaan untuk ikut bermain dalam arena tersebut, sebaliknya ia akan menolak untuk ikut serta dalam persaingan yang tidak sehat, walaupun hal itu merupakan tugas yang akan dilaksanakannya. Oleh karena ia dalam bersikap dan berperilaku tidak akan melepaskan diri dari hal-hal yang positif terutama dalam membuat suatu keputusan selalu berlandaskan pada asas adil dan objektif. Jadi dengan intergritas itu berarti ia memiliki manajemen intuitif untuk mengintergrasikan otak kanan dan kiri dengan hati sebagai keterampilan manajemen abad baru.

     Dalam pengertian lain, integritas juga bisa didefinisikan sebagai sebuah konsistensi antara tindakan dengan nilai ataupun prinsip- prinsip yang sedang dijalankan. Integritas merupakan salah satu atribut terpenting/kunci yang harus dimiliki seorang pemimpin. Integritas adalah suatu konsep berkaitan dengan konsistensi dalam tindakan-tindakan, nilai-nilai, metode-metode, ukuran-ukuran, prinsip-prinsip, ekspektasi-ekspektasi dan berbagai hal yang dihasilkan. Orang berintegritas berarti memiliki pribadi yang jujur dan memiliki karakter kuat. Integritas itu sendiri berasal dari kata Latin “integer”, yang berarti: Sikap yang teguh mempertahankan prinsip, tidak mau korupsi, dan menjadi dasar yang melekat pada diri sendiri sebagai nilai-nilai moral. Kemudian Mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuanyang memancarkan kewibawaan, kejujuran.aka “Integritas” menjadi kunci kepemimpinan “bagaimana ia membuat keputusan yang benar pada waktu yang benar” dalam bersikap dan berperilaku karena disitulah terletak pondasi dalam membangun kepercayaan dan hubungan antara individu dalam organisasi. Dimana kita memperhatikan legalitas dan prosedur yang harus ditempuh, namun yang lebih penting “Integritas” seseorang dapat menuntun mana yang jujur dan yang tidak jujur yang tidak mudah di kacaukan hal-hal yang bersifat formal tapi dapat menyesatkan.

     Jadi dapat dipahami bahwa Integritas Seorang Pemimpin Adalah sikap atau sifat serta nilai-nilai yang memang harus dimiliki oleh seorang pemimpin guna untuk membangun kepercayaan antar individu dalam organisasi.

 

     2.  Bagaimana Cara Membangun Integritas

   Kepemimpinan yang konsisten menunjukkan keteladanan dalam mempengaruhi orang lain berarti memberikan daya dorong untuk memotivasi dirinya dalam membangun integritas, yang secara tak langsung mendorong orang lain untuk memahami secara mendalam prinsip dalam menumbuhkembangkan integritas yang kita sebut dengan prinsip pertama adalah menumbuh kembangkan kepercayaan dan keyakinan dalam merubah kesadaran inderawi ke tingkat yang lebih baik; prinsip kedua adalah memberi saling menghormati dan menghargai orang lain; prinsip ketiga adalah memiliki kemampuan dalam kedewasaan rohaniah, sosial, emosional dan intelektual.

     Untuk menegakkan prinsip integritas diatas, maka setiap individu harus mampu memahami makna dan arti integritas yang dapat diaplikasikan dalam kehidupannya. Caranya mendorong orang untuk menggerakkan kekuatan pikiran dengan memahami dari unsur huruf menjadi kata bermakna sebagai suatu pendekatan untuk memotivasi diri dalam membangun kepercayaan dan keyakinan sebagai titik tolak agar ia mampu berbuat sesuatu untuk kemajuan dirinya, untuk apa ia mengikat diri kedalam suatu organisasi.

    Dengan pemahaman itu diharapkan menjadi daya dorong untuk bersikap dan berperilaku bahwa “dapatkah kepemimpinan anda dan pengikutnya mencapai keberhasilan untuk tetap memiliki “integritas” dalam usaha-usaha membangun budaya organisasi yang kuat sebagai wahana untuk melaksanakan transformasi dalam perubahan sikap dan perilaku untuk mengikat diri kita bersama dan membangkitkan jiwa kepuasaan di dalam diri kita. Jadi integritas menjadi penuntun dan wasit agar kita konsisten sehingga keyakinan kita akan dicerminkan oleh perbuatan kita, yang akan menunjukkan bahwa tidak akan ada perbedaan antara apa yang kelihatan dan apa yang diketahui lingkungan kita tentang diri kita, apakah berada dalam saat berkuasa atau tidak berkuasa.

     Jadi integritas bukan hanya penuntun dan wasit antara dua keinginan yang kita sebut dengan “orang yang bahagia dan jiwa yang terbagi”. Dengan pemahaman integritas dari sudut kata yang bermakna yang telah kita kemukakan diatas, maka membebaskan kita untuk menjadi diri yang utuh tidak peduli apa yang akan datang kepada kita.sehingga tingkat kedewasaan kita akan menunjukkan “kalau apa yang saya katakan dan apa yang saya lakukan sama, hasilnya konsisten dalam bersikap dan berperilaku.

Jika seorang pemimpin sudah memiliki integritas, maka yang dapat dilakukan oleh seorang pemimpin untuk menjaga integritasnya:

  1. Menepati janji atau memenuhi perkataan.

   Sering kali, seorang pemimpin berkata bahwa ia akan melakukan sebuah perubahan atau memberikan reward kepada karyawannya. Namun, hal tersebut tidak terlaksana karena seringnya sang pemimpin menunda-nunda pekerjaan. Dengan tidak tercapainya janji seorang pemimpin, maka anggota organisasi lainnya pun dapat kehilangan kepercayaan mereka terhadap pemimpin tersebut. 

       2.  Berkomunikasi secara jelas dan jujur

    Mudah bagi semua orang untuk jujur saat menyampaikan berita baik, namun tidak saat harus menyampaikan berita buruk. Begitu juga bagi seorang pemimpin. Seringkali, pemimpin cenderung berputar-putar dalam menyampaikan suatu berita buruk. Namun, hal tersebut memicu terjadinya kesalahpahaman yang menghambat komunikasi. Maka dari itu, untuk menjaga integritas dan memastikan bahwa komunikasi berjalan dengan baik, seorang pemimpin seharusnya menyampaikan maksudnya secara langsung dan jelas. Dengan begitu, solusi yang tepat untuk suatu permasalahan pun akan tercapai.

       3.  Berani meminta maaf

     Banyak orang berpikir bahwa pemimpin harus selalu menunjukkan sisi kuat mereka dan menyembunyikan kesalahan mereka. Padahal sebenarnya, semua orang membutuhkan keberanian untuk mengakui kesalahan mereka dan meminta maaf. Dan saat seseorang berani meminta maaf dengan tulus, kita dapat merasakan bahwa ia telah mendahulukan kejujuran serta kebenaran daripada egonya. Demikian pula dengan pemimpin. Ketika seorang pemimpin berani meminta maaf, maka ia akan meningkatkan kepercayaan serta respect orang lain terhadapnya. Selain itu, seorang pemimpin yang mempraktekkan kejujuran juga akan memberi pedoman yang baik kepada anggota timnya untuk menciptakan sebuah culture perusahaan yang baik.

      3.  Senantiasa berkomitmen

     Ketika seseorang memutuskan untuk menjadi pemimpin, maka ia harus menerima fakta bahwa semua orang memiliki ekspektasi yang lebih tinggi terhadapnya dibandingkan orang lain dalam organisasi. Seorang pemimpin memiliki tanggung jawab yang besar bagi organisasinya, baik kepada timnya maupun kepada pelanggan dan stakeholder. Maka dari itu, untuk menjaga integritasnya, pemimpin harus berkomitmen senantiasa untuk bekerja keras dan memenuhi ekspektasi orang lain terhadapnya demi kebaikan bersama dalam organisasi.

 

3.  Karakteristik Integritas dalam kepemimpinan

     Menurut Gen Ronald R. Fogleman menemukan bahwa pemimpin yang berintegritas menunjukkan sikap tulus dan konsisten, memiliki keteguhan hati dan karakter, dan merupakan seorang yang mampu bertahan sampai akhir.

  • Ketulusan

   Ketulusan adalah perilaku tanpa kepura-puraan dan kesan yang palsu. Pemimpin yang berintegritas bersikap tulus -- tindakan mereka sesuai dengan perkataannya. Sebuah ilustrasi tentang Jenderal Wilbur Creech membantu menjelaskan poin ini. Saat menjabat sebagai Komandan Tactical Air Command pada awal tahun 1980-an, dia selalu mengadakan lawatan dan bertemu dengan para bawahannya di tempat mereka tinggal dan bekerja. Suatu ketika, Jenderal Creech sedang melakukan inspeksi ke gudang persediaan, ketika didapatinya seorang sersan duduk di sebuah kursi yang penuh tambalan selotip elektrik dan diganjal dengan satu batu bata. Saat sang jenderal menanyakan mengapa ia tidak memakai kursi yang lebih baik keadaannya, sersan tersebut menjawab bahwa tidak ada kursi baru yang tersedia bagi petugas gudang. Jenderal Creech berjanji akan mengurus masalah tersebut. Sebagai tindak lanjut inspeksi tersebut, Jenderal Creech memerintahkan ajudannya untuk terbang kembali ke Langley (markas angkatan udara, Virginia) dan menyerahkan kursi tua itu kepada petugas logistik. Kursi itu diakui sebagai milik sang jenderal sampai petugas logistik tersebut mengatasi permasalahan di gudang dan mengembalikan kursi itu ke petugas gudang.

    Jenderal Creech selalu menyesuaikan perkataannya dengan tindakannya. Itulah yang membuatnya menjadi seorang pemimpin yang hebat dan memiliki integritas. Semakin sejalan perilaku seorang pemimpin dengan perkataannya, semakin setia para pengikut, baik dalam mengikuti sang pemimpin ataupun mengikuti organisasi.

  • Konsistensi

     Satu perbuatan nyata yang mencerminkan integritas akan meninggalkan kesan, namun perilaku seorang pemimpin haruslah konsisten jika ia ingin berhasil membentuk suatu organisasi. Pada kenyataannya, integritas bersifat imperatif karena secuil pelanggaran saja terhadap integritas akan dapat meninggalkan cacat permanen. Para pemimpin haruslah konsisten dalam menjalankan standar kedisiplinan. Seorang pemimpin yang mendiskriminasi, dengan menggunakan tingkat jabatan atau hubungan pertemanan untuk menentukan responnya terhadap pelanggaran kedisiplinan, memiliki masalah integritas yang serius. Tak ada yang dapat menghancurkan moral seefektif menghukum seorang staf junior seberat-beratnya karena melakukan pelanggaran serius, namun membiarkan seorang staf senior yang melakukan kesalahan serupa, lalu pensiun tanpa menanggung hukuman. Pemimpin semestinya mempraktikkan apa yang mereka ajarkan, dan menetapkan standar dengan adil. Kesemuanya ini dibutuhan untuk terwujudnya disiplin, moral, dan pencapaian misi.

  • Keteguhan hati

      Untuk menjadi seorang pemimpin, Anda harus memiliki lebih dari sekadar citra diri (image) yang berintegritas -- Anda harus memiliki keteguhan hati. Presiden Abraham Lincoln pernah menceritakan kisah tentang seorang petani. Di samping rumah petani tersebut, tumbuh sebatang pohon tinggi yang sangat indah. Suatu pagi, dia melihat seekor tupai berlari memanjat ke atas pohon dan menghilang ke dalam sebuah lubang. Karena penasaran, petani itu melihat ke dalam lubang dan mendapati bahwa pohon yang ia kagumi itu berlubang di dalamnya, dan bisa rubuh menimpa rumahnya saat badai hebat menerjang.

     Seperti pohon tersebut, pemimpin yang dari luar terlihat memiliki keteguhan hati, namun ternyata di dalamnya kekurangan integritas, tidak akan kuat untuk bertahan dalam masa-masa sulit. Pemimpin yang integritasnya lemah tidak bisa membangun organisasi yang mampu bertahan dalam situasi yang penuh tantangan.

  • Menjadi Seorang yang Mampu Bertahan Sampai Akhir

     Yang terakhir, pemimpin dapat menunjukkan integritasnya dengan melaksanakan tugas sebaik mungkin, terlepas dari seberapa penting tugas itu atau siapa yang akan mendapat pujian. Pendeta Ben Perez menggunakan analogi tentang tim yang meskipun pasti akan kalah, tapi terus bertahan dalam sebuah permainan, untuk menggambarkan kebulatan tekad para profesional yang berintegritas. Mungkin tak ada organisasi yang memperlihatkan kesetiaan terhadap pekerjaan yang terbesar selain Pursuit Squadron ke-17 di Filipina pada awal Perang Dunia II. Kendati menghadapi serangan hebat dari armada udara Jepang, para pilot Pursuit Squadron tetap menjalankan misi pengintaian bersenjata setiap hari, dan terkadang juga melakukan penyerangan terhadap kapal-kapal musuh. Meski nyaris menjadi misi bunuh diri, para tentara dari Pursuit Squadron berkali-kali melakukan serangan mendadak sampai Bataan jatuh pada bulan Mei 1942. Pursuit Squadron ke-17 merupakan suatu tim yang dipimpin oleh orang-orang berintegritas yang mampu bertahan dalam perjalanan panjang menuju kejayaan. Itulah teladan dari kesetiaan terhadap pekerjaan, suatu integritas yang harus dimiliki setiap pemimpin.

 

PENUTUP

    Integritas Seorang Pemimpin Adalah sikap atau sifat serta nilai-nilai yang memang harus dimiliki oleh seorang pemimpin guna untuk membangun kepercayaan antar individu dalam organisasi. Untuk dapat memiliki integritas dalam kepemimpinan, seorang pemimpin harus menggabungkan seluruh aspek yang ada dalam dirinya menjadi satu kesatuan yang saling mendukung satu sama lainnya. Aspek-aspek tersebut adalah kognitif (ranah yang mencakup kegiatan mental/otak), afektif (ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai), dan psikomotoriknya (ranah yang berkaitan dengan keterampilan/skill atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu). Hal itulah yang akan mencerminkan dirinya secara holistik sebagai seorang pemimpin.

     Jika seorang pemimpin sudah memiliki integritas, maka yang dapat dilakukan oleh seorang pemimpin untuk menjaga integritasnya yaitu dengan cara menepati janji atau memenuhi perkataan, berkomunikasi secara jelas dan jujur, berani meminta maaf, serta senantiasa berkomitmen.

     Pemimpin yang berintegritas menunjukkan sikap tulus dan konsisten, memiliki keteguhan hati dan karakter, dan merupakan seorang yang mampu bertahan sampai akhir

 

RUJUKAN

Anggara Wisesa. Integritas Moral Konteks Pengambilan Keputusan Etis (Volume 10 Number I 2011).

Mahardi, Dedi. Integritas Bangsaku. Jakarta: Elex Media Komputindo.2015

Pringle Phil, Top 10 Qualities of A Great Leader. Pennsylvania: Harrison House Publishers. 2008

Minkes, A.L, et al (1999). Leadership and Business Ethic: Does It Matter Implication for Management. The Journal of Business Ethic 20, 327-335

Covey Stephen.R, 1997, Principle Centered Leadership, Jakarta: Binarupa Aksara

Dahlan, Alwi, dkk. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

 


Sumber :

Penulis :

Editor :

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP