Top
    bdkbanjarmasin@kemenag.go.id
(0511) 4705071
MODERASI BERAGAMA DALAM MASYARAKAT PLURAL

MODERASI BERAGAMA DALAM MASYARAKAT PLURAL

Jumat, 4 September 2020
Kategori : Artikel Ilmiah
1062 kali dibaca

 

MODERASI BERAGAMA DALAM MASYARAKAT PLURAL

                                   by: Yasir Arafat

(Widyaiswara Ahli Muda Balai Diklat Keagamaan Banjarmasin)  

                                                                                         

 

Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Itu kenyataan yang tak bisa disangkal. Kita adalah bangsa yang terdiri dari berbagai suku, budaya dan agama, yang tinggal di pulau-pulau yang terpisah. Karena itu tepat sekali semboyan negara kita, Bhinneka Tunggal Ika, berbeda tetapi satu. Perbedaan diakui, tidak disangkal atau dipaksa untuk diseragamkan, tetapi pada saat yang sama, diakui pula adanya titik temu di antara keragaman itu. Keragaman membuat hidup kita semarak dan bergairah, sedangkan persamaan membuat kita bisa bersatu dan bekerjasama mencapai tujuan yang dicita-citakan (Mujiburrahman,2017;28)

Sebagai sebuah negara yang besar dan pluralistik, Indonesia kaya dengan berbagai suku, budaya, dan mempunyai agama yang berbeda-beda (multireligius). Ini sebuah anugerah Tuhan YME yang patut disyukuri. Bahkan Sila Pertama Pancasila, adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Pancasila sebagai ideologi harus menjadi way of life seluruh komponen bangsa.

Menurut Gusdur “ Tanpa Pancasila negara akan bubar. Pancasila adalah seperangkat asas dan ia akan ada selamanya. Ia adalah  gagasan tentang negara yang harus kita miliki dan kita perjuangkan. Dan Pancasila ini akan saya pertahankan dengan nyawa saya. Tak peduli apakah dia dikebiri angkatan bersenjata atau dimanipulasi umat Islam, disalahgunakan oleh keduanya” ( Douglas.E.Ramage,1995;45 dalam Alamsyah M.Djafar.2018:2)

Demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang berdasar pada asas kekeluargaan dan bertujuan untuk membentuk masyarakat yang sejahtera. Demokrasi ini juga mempunyai kesadaran akan nilai-nilai religius, berbudi pekerti luhur, dan merupakan proses yang berkesinambungan ( Surya Subur: 2020: 40-41).

Berbagai suku,budaya, dan multireligius yang dimiliki oleh bangsa Indonesia menjadi modalitas untuk membentuk karakter masyarakatnya yang demokratis dan menerima kearifan lokal (local wisdom).  Demokrasi dan kearifan lokal (local wisdom) dapat menjadi perekat untuk menjaga kerukunan inter dan antarumat beragama di Indonesia. Selain demokrasi dan kearifan lokal (local wisdom), ada perekat lain untuk kerukunan inter dan antarumat beragama di Indonesia, yaitu melalui moderasi beragama.

Moderasi menurut KBBI artinya ada dua, yaitu: (1) pengurangan kekerasan, dan (2) penghindaran keekstreman. Jadi jika dikatakan orang itu bersikap moderat, maka dapat diartikan orang itu bersikap wajar, biasa-biasa saja dan tidak ekstrem. Sedangkan dalam bahasa Arab, moderasi bermakna tawazun, tawasuth,tasamuh dan i’tidal (Ali Mutahar,2005: 1220).  Secara sederhana, makna moderasi beragama dapat dipahami sebagai sikap dan perilaku  selalu  mengambil  posisi  di  tengah-tengah  (wasathiyah),  selalu  bertindak adil, dan tidak ekstrem kanan atau kiri dalam praktik beragama. Kata wasathan diartikan moderat sedang moderasi menjadi kata sifat yaitu sikap atau pikiran yang berada di jalan tengah. Pengertian wasathan mencakup tiga arti: (1) Baik karena berada di antara dua makna ekstrem; (2) Menjadi penengah/wasit; dan (3) Adil. ( A.W.Munawwir,1984: 1662-1663)

Mantan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin pernah menyatakan bahwa “ada beberapa masyarakat kita yang terlalu tekstual dan fanatik dalam memahami ayat-ayat suci sehingga menjadi sangat eksklusif, ekstrem dan cenderung menebar teror. Kondisi ini rentan menciptakan konflik yang bisa mengoyak keharmonisan kehidupan bersama kita. Moderasi beragama penting diimplementasikan dalam mengelola kehidupan beragama masyarakat Indonesia yang sangat plural dan multikultural”(Kemang.go.id. Sambutan Menag Pembukaan Rakernas 2019) .

 Gayung bersambut, Menag Fachrul Razi juga mengungkapkan moderasi beragama telah menjadi bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Lanjut beliau, “ Saya ingin menggarisbawahi, kita tidak boleh pernah ragu sedikitpun, untuk berbicara soal moderasi beragama”.(Tribunnews.com)

Moderasi beragama jika dikelola dengan baik dan dipahami dengan benar oleh seluruh pemeluk agama dapat menjaga kerukunan inter dan antarumat beragama, terutama bagi masyarakat yang plural. Masyarakat yang plural ditambah dengan pemahaman agama pemeluknya yang masih sempit, dapat menjadi trigger potensi kerawanan dan ancaman perpecahan. Sebagai sebuah Negara dengan budaya, adat istiadat atau tradisi, suku atau etnis,bahasa dan agama yang beragam, konflik keagamaan dapat terjadi di Indonesia, terutama dipicu dengan adanya sikap keberagamaan sebagian umatnya yang eksklusif.

Moderasi sangat erat kaitannya dengan toleransi, karena makna toleransi merupakan usaha yang sungguh-sungguh bersedia menghormati, menghargai dan menerima perbedaan yang ada pada orang lain atau agama lain. Dalam beragama, kesediaan menghormati, menghargai dan menerima seperti itu sama sekali tidak berarti mengurangi, atau menghilangkan dogma pokok-pokok dalam ajaran agama . Moderasi beragama sama sekali bukan berarti kita melakukan kompromi untuk menukarkan aqidah atau keyakinan, akan tetapi saling menghormati, saling menghargai, saling mendengarkan tentang agama dan keyakinan orang lain. Intinya  lebih mencari titik temu ajaran agama, daripada memperbesar perbedaan agama dan ajaran agama. Sejak awal kita sudah berbeda, maka perbedaan bukan menjadi faktor tidak bisa mewujudkan kerukunan, malah sebaliknya dengan perberbedaan kita buktikan dapat rukun dan damai.

Pada dasarnya semua   agama   mengajarkan pada pemeluknya   perdamaian  dan tidak  menolerir kekerasan, dengan alasan apapun. Namun  kenyataannya  ada    oknum yang melakukan  atau mendukung aksi-aksi kekerasan  atas nama agama. Sehingga citra sebuah agama rusak dan hancur. Efek domino dari kehancuran rubuh satu sirna banyak. Citra agama atau simbol-simbol keagamaan dibawa-bawa, untuk tujuan tertentu, yang pada ujung-ujungnya disandarkan sebagai sumber awal konflik dan penuh kekerasan. Agama itu hanif,jika ada yang membelokkan agama untuk tindakan kekerasan dan anti damai, bukan agamanya yang salah, tetapi oknum yang membawa-bawa agama itu yang perlu dibina keberagamaannya.

Kemudian timbul pertanyaan, apakah moderasi itu hanya kebutuhan warga Negara Indonesia? Moderasi beragama bukan hanya kebutuhan warga Negara Indonesia saja, melainkan juga kebutuhan seluruh umat manusia di muka bumi. Ini menunjukkan bahwa hidup rukun dan damai adalah sebuah keniscayaan. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) telah menetapkan tahun 2019 sebagai “Tahun Moderasi Internasional” (The International Year of Moderation). Sejalan dengan komitmen Kementerian Agama untuk terus menggaungkan dan “membumikan” moderasi dalam konteks beragama.

Sejatinya, semua pemeluk agama harus selalu bersikap mengambil jalan tengah (tawassuth) hal ini dapat menjadi solusi atas  sikap eksklusif, intoleransi  dan  ekstremisme  dalam  beragama.  Penting dipahami bahwa agama menempati posisi sentral dan mempunyai peran yang sangat vital dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam kehidupan masyarakat yang plural, baik agama,etnis, adat istiadat,budaya dan bahasa  mengharuskan pelaksanaan moderasi beragama dalam berbagai aspek kehidupan, yang bisa dimulai dari tingkat daerah sampai pusat. Disinilah pentingnya peran dan fungsi tokoh agama dan penyuluh agama, untuk ikut memberikan kontribusi positif  dan konstruktif bagi umat beragama.

Sebagai tanggung jawab para tokoh agama dan penyuluh agama, maka mereka perlu memikirkan bagaimana mengatasi  problem  keberagamaan umat. Diantaranya dengan memperbanyak   literatur   bacaan   (literasi) keagamaan   yang   ringan   tetapi   menggambarkan kedalaman khazanah pengetahuan keagamaan, tentu saja bersumber dari referensi yang dapat dipertanggungjawabkan. Karenanya, semangat moderasi beragama bisa diwujudkan dengan cara menyediakan bacaan berimbang terkait pemahaman keagamaan. Kemudian memperbanyak volume dialog lintas agama, baik tingkat daerah maupun tingkat pusat. Dan yang terpenting pesan-pesan agama tidak hanya keluar dari rumah-rumah ibadah,seperti masjid, gereja, vihara,pura dan kelenteng, namun hendaknya di semua tempat yang bisa diakses publik secara massif.

Konsep moderasi beragama bukanlah memaksakan orang lain agar melaksanakan pemahaman agama kita kepada agama orang lain. Ini pemahaman yang keliru. Moderasi beragama adalah bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai luhur ajaran agama yang diyakininya ke dalam kehidupan masyarakat yang plural. Untuk apa? Untuk mewajudkan kerukunan inter dan antarumat beragama.

Tulisan sederhana ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran dalam memahami pentingnya kita, sebagai umat beragama bersama-sama membangun pemahaman keagamaan yang moderat, terbuka, dan toleran, serta menempatkannya dalam rangka menguatkan kembali rasa cinta, berbangsa dan bernegara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Salam Moderasi.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. A.W.Munawwir,1984. Kamus Al-Munawwir (Arab-Indonesia Terlengkap) Unit Pengadaan Buku-Buku Ilmiah Keagamaan Pon-Pes “Al-Munawwir” Krapyak Yogyakarta.
  2. Alamsyah M Djafar, 2018. Intoleransi (Memahami Kebencian dan Kekerasan Atas Nama Agama). PT. Elex Media Komputindo Kompas Gramdia. Jakarta.
  3. Ali Mutahar, 2005. Kamus Arab-Indonesia. PT. Ikrar Mandiriabadi . Jakarta.
  4. Bahan ToT Moderasi Beragama, 2019. Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Jakarta.
  5. Mujiburrahman, 2017. Agama Generasi Elektronik. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
  6. Surya Subur, 2020. Revolusi Mental ASN (Mewujudkan Birokrasi Berbasis Pelayanan Publik) Nizamia Learning Center: Sidoarjo.
  7. Kemenag.go.id (Berita tanggal 24-2-2019)
  8. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online.
  9. Tribunnews.com (Berita tanggal 13-7-2020)


Sumber :

Penulis :

Editor :

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP