Top
    bdkbanjarmasin@kemenag.go.id
(0511) 4705071
TULUS HATI

TULUS HATI

Jumat, 10 Desember 2021
Kategori : Rumah Hikmah
1926 kali dibaca

TULUS HATI

 

“Ketulusan seseorang akan terpancar dari matanya.

  Kebaikannya akan terlihat dari tindakannya.

  Dan kebijaksanaannya akan terdengar dari kata-katanya.

  (Faozan Tri Nugroho)

Menurut KBBI, ikhlas adalah bersih hati atau tulus hati. Pengertian ini tentunya memiliki makna yang sangat dalam dan luas. Ikhlas adalah melakukan sesuatu tanpa mengharapkan sesuatu yang lain. Dalam hal ini melakukan sesuatu semata-mata hanya karena Allah swt.

Ikhlas adalah suatu sikap yang terlihat mudah diucapkan, namun banyak orang yang kesulitan menerapkannya dalam kehidupan. Hal ini berkaitan dengan perasaan manusia yang memiliki hati yang sulit untuk bersikap ikhlas. Namun, bagi orang yang bertakwa, ikhlas tidak akan sulit diterapkan.

Bersumber dari suaramuslim.net, ikhlas menempati maqam spiritual tertinggi dari cabang-cabang keimanan yang menjadi salah satu penentu diterimanya amal. Sehingga tidak akan diterima amal seseorang kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengikuti tuntunan Rasulullah saw.

Ikhlas merupakan sebuah kunci dari amalan yang kita jalankan sehari-hari. Baik itu pekerjaan duniawi maupun ukhrawi. Banyak keutamaan yang kita dapatkan dari rasa ikhlas yang dilandasi karena Allah semata. Adapun keutamaan orang yang dapat melakukan sesuatu dengan ikhlas, antara lain: (1) Mendapatkan ketenangan lahir dan batin. (2) Memiliki kekuatan spiritual. (3) Istiqamah dalam beramal (4) Memperoleh pahala yang besar (5) Mendapat kemenangan dan dicukupi Allah (6) Mendapat naungan dari Allah di masa kritis.   

Di dunia ini tidak ada orang yang sempurna. Semua orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Orang yang benar-benar tulus hati tidak akan peduli bagaimanapun dan apapun yang menimpanya setelah berbuat baik pada orang lain. Baginya berbuat baik adalah keharusan sebagai manusia. Entah mendapat respon positif atau negatif. Ia tidak akan pernah berubah. Ia tetap melakukan kebaikan.

Ketulusan tidak pernah mengharap balasan atau imbalan atas semua yang telah dilakukan. Orang-orang yang tulus memang tidak banyak tetapi mereka ada dalam hidup dan kehidupan kita. Mereka yang mengulurkan tangan saat kita mendapat musibah. Mereka yang menjadi sahabat saat kita perlu dukungan. Itulah ciri-ciri orang yang tulus. Selalu ada saat dibutuhkan.

Tetapi ingat, membantu atau menolonglah dengan tulus hati. Jangan sampai berharap balasan yang lebih dari yang kita bantu. Itu sangat tabu dan dilarang agama. Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Muddatstir ayat 6. “ Dan janganlah engkau (Muhammad) memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak”. Ayat ini seakan ingin menegaskan, apabila kita memberi suatu pemberian (bantuan) kepada seseorang maka berikanlah karena mengharap ridha Allah swt., dan dilandasi dengan keikhlasan.

Sebagian dari kita pasti pernah mendengar kalimat, “Apa yang kita tabur itulah yang akan kita tuai.” Jika seseorang memperlakukan orang lain dengan tulus, tentu dia akan mendapatkan balasan yang sepadan. Orang yang tulus, otomatis akan memiliki banyak yang loyal terhadapnya.

Mengapa demikian? Sebab perbuatan yang baik akan diikuti oleh perbuatan-perbuatan baik lainnya. Dan pasti ada orang baik dibalik perbuatan baik


Sumber : H.Yasir Arafat

Penulis : H.Yasir Arafat

Editor : Yusmadi

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP