PUISI-PUISI SUFISTIK JALAL AL-DIN RUMI

PUISI-PUISI SUFISTIK JALAL AL-DIN RUMI

Oleh : H. Yasir Afatat, M.Pd

 

A. Pendahuluan

Pengalaman spiritual seseorang, seperti yang dialami oleh Rumi, menjadi magnet dan gerbang menuju rahasia di balik kata dan susunan kalimat. Pengalaman spiritual sejumlah tokoh sufi juga akhirnya dituangkan dalam karya sastra sehingga sastra Islam pun memiliki kaitan dengan sufisme ( Nashih Nashrullah: 2021).

Pengambilan istilah puisi sufistik berkait erat dengan sufisme dan tasawuf. Istilah ini dimaksudkan sebagai salah satu kategori penyifatan dimensi esoteris ajaran Islam. Hampir seluruh isi puisi-puisi Rumi berisi berita propetik yaitu menyatunya dimensi sosial dan dimensi spiritual. Tuhan dalam pandangan Rumi transenden sekaligus imanen. Tetapi Tuhan berbeda dengan alam dan manusia. Tuhan bersifat baqa’ sedangkan manusia dan alam bersifat fana.

Menurut Dwiki Setiawan (2021).“Tanpa dimensi spiritual, manusia takkan pernah bisa menyempurnakan kemanusiaannya. Ia hanyalah robot berdaging yang hidup di bumi dengan segala aktivitas bernilai relatif, yang dijalankannya dari hari ke hari sekadar menunggu atau menunda saat kematiannya”.

B. Pembahasan

1. Rumi dan Guru-Gurunya

Sebagaimana ditulis oleh Abdul Hadi WM, didalam bukunya Lagu Seruling Rumi (2004). Nama lengkap Rumi adalah Jalal al-Din Rumi bin Hussain al-Khatibi al-Bahri. Ia digelari Khudawandagar  yang dalam bahasa Persia berarti “tuan besar”. Dalam puisi-puisinya Rumi sering menyebut dirinya Khamsuy artinya orang yang suka menutup mulut atau diam. Sebutan untuk seorang sufi yang senang bertafakkur.

Di Konya, Turki, ia dipanggil mevlava atau mevlavi,artinya lebih kurang sama dengan syekh. Kadang ia digelari para muridnya sebagai sir Allah al-a’zham atau rahasia agung dari Tuhan. Gelar Rumi atau mulla yi-rum diberikan karena ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Anatolia, Turki, yang sebelumnya merupakan pusat kemaharajaan Romawi Timur. Pada abad XII negeri ini ditaklukkan oleh penguasa Seljuk, sebuah dinasti muslim keturunan Turki yang muncul di panggung sejarah Islam pada akhir abad ke XI.

Ayah Rumi, Muhammad ibnu Hussain al-Khatibi alias Bahauddin Walad, seorang ulama terkemuka di Balkh. Ia digelari sebagai “sultan ulama”. Ibu Rumi berasal dari keluarga raja Khwarizmi.

Pada tahun 1210 M, beberapa tahun sebelum kerajaan Khwarizmi diserbu dan ditaklukkan oleh pasukan Jengis Khan dari Mongolia, keluarga Rumi pindah ke Khurasan, kemudian ke Nasyapur, di Iran. Pada tahun 1220 M keluarga Rumi berpindah-pindah tempat. Pernah di Baghdad, ke Makkah, Damaskus dan akhirnya tinggal menetap di Konya, Turki.

Di bawah bimbingan Syekh Burhanuddin al-Tirmidzi, Rumi mempelajari tasawuf secara tekun dan penuh minat. Setelah itu Rumi pergi ke Aleppo memperdalam pengetahuannya di Madrasah Halawiyah. Dalam usia 33 tahun Rumi sudah menguasai berbagai cabang ilmu secara luas seperti: tafsir, hadits,ushuluddin, fiqh, tasawuf, bahasa dan sastra Arab, sejarah Islam, filsasat dan lain-lain.

Setelah beberapa tahun mengajar ilmu syari’at dan fiqh, Rumi merasa kurang gairah, karena pengetahuan formal yang ia ajarkan kepada murid-muridnya ternyata tidak dapat mengubah sikap dan alam pikiran mereka mengenai dunia, manusia dan Tuhan.

Sejak itulah Rumi menyadari bawa pelajaran tentang hukum agama, pemikiran falsafah dan pengetahuan formal tidak cukup untuk mendidik seseorang. Ia kian menyadari bahwa dalam diri manusia ada kekuatan tersembunyi, yang apabila diberdayakan secara sungguh-sungguh, akan dapat memberi kebahagiaan dan pengetahuan yang tidak terkira luasnya. Kekuatan tersembunyi itu ialah ‘ishq ilahiyah (cinta ilahi).

Pada tahun 1244 M, muncullah di Konya seorang darwis yang kharismatik. Ia datang dari Tabriz, Iran. Namanya Syamsuddin. Dan orang-orang biasa menyebutnya Syamsi Tabriz. Kedatangan tokoh inilah yang menyebabkan terjadinya perubahan besar dalam diri dan kehidupan Rumi. Akibatnya Rumi meninggalkan murid-muridnya dan madrasah yang dipimpinnya terbengkalai. Rumi sangat tertarik dengan khutbah-khutbah dan pribadi Syamsi Tabriz.

Murid-murid Rumi marah. Mereka lalu menculik Syamsi Tabriz dan menjauhkannya dari Rumi. Sejak itu hingga meninggalnya Syamsi Tabriz, Rumi tidak pernah berjumpa dengan guru spiritualnya. Rumi mengembara untuk mencari Syamsi Tabriz. Kerinduan yang membuncah pada gurunya merangsang ia melahirkan puisi-puisi pujian kepada sang guru.

Guru-guru yang sangat mempengaruhi cara berpikir dan kehidupan Rumi cukup banyak. Di bawah ini adalah guru-guru Rumi yang terkenal, yaitu:

  1. Muhyi al-Din Ibnu ‘Arabi
  2. Hakim Sana’i
  3. Farid al-Din ‘Attar
  4. Baha’ al-Din Walad (ayahnya)
  5. Sayyid Burhan al-Din Muhhaqqiq al-Tirmizi
  6. Syams al-Din Tabriz
  7. Shalah al-Din Faridun Zarkub
  8. Husamu al-Din Khalabi

2. Karya-Karya Rumi

  1. Maqalat-i-syams-i Tabriz. (Percakapan Dengan Syamsi Tabriz). Karya ini dianggap sebagai buah persahabatan intim Rumi dengan guru dan sahabatnya, Syamsi Tabriz. Karya ini berisikan dialog mistik antara Syamsi sebagai guru dan Rumi sebagai murid.
  2. Diwan-i Syams-i Tabriz. (Syair-Syair Pujian Syamsi Tabriz). Karya memukau ini dipersembahkan Rumi kepada gurunya, Syamsi Tabriz dan ditulis untuk mengenangnya. Rumi mengekspresikan penghormatannya kepada Syamsi Tabriz, yang namanya sering dikutip di akhir setiap bait. Karya ini berisi koleksi yang sangat banyak, sekitar 36.000 bait.
  3. Matsnawi Ma’nawi atau Matsnawi. Ini adalah karya Jalal al-Din Rumi yang paling agung. Berisi syair panjang sekitar 35.700 untaian bait prosa lirik, yang terbagi ke dalam 6 jilid. Karya ini menghabiskan 12 tahun masa-masa akhir hayat Rumi.
  4. Fihi Ma Fihi yang arti harfiyahnya. “Di dalamnya Ada di Sana”, atau percakapan Rumi. Karya ini mencakup ucapan-ucapan Rumi dengan murid dan sahabat-sahabatnya yang ditulis oleh putera tertuanya, Sultan Walad.
  5. Ruba’iyat (Syair-Syair Empat Belas Baris). Berisi sekitar 1.600 kuatrin orisinal. Mencakup ide-ide Rumi tentang tema-tema yang beragam dalam sufisme, seperti: tawakkal, ikhlas, cinta, iman, akal dan penyatuan.
  6. Maktubat (Surat-Menyurat). Berisi 145 surat yang rata-rata sepanjang dua halaman. Menurut William C. Chittick (1974: Terj. Mulyadi:1989) kebanyakan surat-surat ini ditujukan kepada pengeran dan para bangsawan di Konya.
  7. Majlis-i Sab’ah (Tujuh Pembahasan). Karya ini berbentuk prosa, berisi beberapa pidato dan kuliah Rumi yang diberikannya bukan saja untuk kaum sufi, tetapi juga untuk masyarakat umum.

3. Analisis Puisi-Puisi Rumi

Para ahli sastra sepakat, untuk memudahkan melakukan analisis sebuah puisi, maka jalan yang terbaik adalah dengan membuat sebuah parafrase. Ada 3 puisi Rumi yang akan di analisis, yaitu:

  1. Al quran
  2. Tuhan Adalah Jiwa Dunia
  3. Eksistensi

a. Al quran

Walaupun al quran lewat bibir para rasul

Siapapun yang ingkar bahwa ia bukan

Sabda Tuhan

Hanyalah sembunyikan kebenaran

Puisi di atas merupakan pernyataan tegas, bahwa al quran adalah kalam (firman) Tuhan yang diturunkan-Nya melalui bibir para rasul pilihan untuk disampaikan kepada manusia di muka bumi.

Parafrasenya sebagai berikut:

Walaupun (penyampaian) al quran lewat (ucapan) bibir para rasul. Siapapun (muslim atau nonmuslim) yang ingkar bahwa ia (al quran) bukan Sabda (firman) Tuhan Hanyalah (usahanya untuk) sembunyikan kebenaran (al haq).

Bait sembunyikan kebenaran (baris ketiga) memberi pengertian bahwa tidak ada manusia yang mampu menyimpan kebenaran, apalagi kebenaran al quran. Bagi yang menyimpan atau menyembunyikannya dicap sebagai orang yang ingkar , artinya membangkan atau tidak patuh.

Baris-baris puisi di atas yang hanya berjumlah 4 baris, secara ikonis jelas merupakan bangunan sebuah cipta puisi. Penanda formal dari tata wajah dapat ditangkap bahwa bangunan cipta puisi itu terdiri dari 1 bait dengan 4 baris atau larik.

Dari tataran kebahasaan dapat dipahami adanya penggunaan diksi yang tepat dengan situasi yang diungkapkannya. Meskipin bentuk puisi itu lebih dominan transendentalisasinya, namun terasa bahwa penggunaan bahasanya cukup intens.

Kiasan-kiasan yang terdapat dalam bangun cipta puisi itu adalah khas ciptaan penyair sendiri, seperti penggunaan “bibir”, tidak menggunakan “mulut” sehingga menyebabkan ungkapan-ungkapa dalam puisi itu terasa hidup dan berdaya sugestif bagi pembaca dan pendengar.

Dari pernyataan puitis Rumi “ yang berkewajiban menyampaikan risalah atau wahyu Tuhan itu seorang rasul”. Cukup dinyatakannya dengan “al quran lewat bibir para rasul”. Juga ungkapan sikap yang harus diterima secara mutlak, cukup dinyatakannya dengan “al quran adalah sabda Tuhan”.

Rumi ingin menyatakan, meskipun isi al quran itu adalah firman Tuhan, tetapi para rasul dipilih untuk menjadi medium antara manusia biasa dengan Tuhan yang Maha Luar Biasa. Karena para rasul adalah refleksi dari eksistensi Tuhan di muka bumi ini. Untuk menjadi rasul, Tuhan telah menetapkan pilihan-Nya berdasarkan kehendak mutlak-Nya.

b. Tuhan Adalah Jiwa Dunia

Tuhan adalah jiwa dunia

Dan dunia adalah jasmani-Nya

Puisi di atas mencerminkan penyatuan Tuhan, yang digambarkan melalui kata-kata metaforis, yaitu / Tuhan sebagai jiwa dunia/dan/dunia sebagai jasmani Tuhan/. Pemahaman tentang hal ini tercipta apabila kita mampu merasakan “keberadaan’ Tuhan yang ada di mana-mana. Maksudnya, dunia yang ditempati sekarang adalah jasmani Tuhan.

Parafrasenya adalah sebagai berikut:

Tuhan adalah jiwa (bagi) dunia. Dan dunia adalah jasmani(bagi)-Nya. Antara jiwa dan jasmani tidak terpisahkan. Kata “Tuhan adalah jiwa bagi dunia” di baris pertama, sebagai ungkapan bahwa manusia tidak mungkin meninggalkan atau melupakan Tuhan, sebab dunia yang kita tempati ini adalah “jiwa” Tuhan. Dan pada baris kedua, “dunia adalah Jasmani-Nya” sebagai penegas bahwa dunia adalah “tubuh” tuhan.

Sebuah puisi yang berhasil secara estetik, di dalamnya terdapat bangunan citra yang segar dan hidup. Dengan demikian, kejelasan dan kekayaan makna puisi sebagai tujuan komunikasi estetik diharapkan tercapai. Implikasinya dalam proses pemahaman pembaca, bangunan citraan itu akan mendukung proses penghayatan objek yang dikomunikasikan, atau suasana yang dibangun dalam puisi, secara cermat dan hidup.

Bangunan citra yang baik ditandai oleh penghematan dalam pemilihan dan penempatan kata dalam baris-baris puisi. Dengan beberapa kata saja, pembaca akan tergugah tanggapannya. Oleh penempatan semacam itu, daya asosiasi pembaca akan bekerja menangkap makna yang dikomunikasikan oleh penyair. Puisi Rumi di atas memakai citraan yang baik dan sekaligus menempatkan kata yang tepat.

Bagi para sufi, Tuhan itu indah dan keindahan-Nya mewujud dalam fenomena duniawi. Dengan keindahan ini, jiwa mereka terdorong untuk mencintai Cinta ilahi, yang akan menjadi kekuatan hidup setiap Gerakan, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Sina dalam Risalah fi al-isyq. Bahkan bintang-bintang digerakkan oleh Cinta ilahi, sebagaimana dinyatakan Rumi dalam sebuah puisinya.

Melalui cinta, langit-langit dalam keselarasan

Tanpa cinta, bintang-bintang akan lenyap

Dari sudut pandang sufi, keindahan mampu menarik jiwa dan memampukannya untuk menghancurkan kekakuan yang menghalangi untuk mencapai sang kalbu. Tujuan akhirnya adalah penyatuan dan ektase. Sehingga manusia merasa Tuhan itu “hadir” di dunia dan dalam dirinya.

c. Eksistensi

Kesadaran dari Tuhan

Lebur dalam keadaan sufi

Bagaimana si awam meyakininya

Pengetahuan sufi adalah garis

Dan pengetahuan Tuhan adalah titik

Eksistensi garis

Amat bergantung pada

Eksistensi titik

Puisi yang ketiga berkenaan dengan cara pandang sufi terhadap eksistensi. Bagi kaum sufi, wujud (eksistensi) berarti haqiqah (kenyataan/kebenaran) dan tiada yang haqiqi kecuali ultimate reality atau al-haq itu sendiri.

Parafrasenya sebagai berikut:

(ketahuilah) Kesadaran dari Tuhan (mu) lebur dalam keadaan (yang) sufi. (lalu) bagaimana si awam (manusia-manusia yang belum tercerahkan) meyakininya. Pengetahuan (para sufi) adalah (bermula dari tarikan) garis. Dan pengetahuan Tuhan (bermula dari sebuah) titik. (Ketahuilah) eksistensi (dari) garis amat bergantung (sekali) pada eksistensi titik.

Kata “eksistensi garis amat bergantung pada eksistensi titik” pada baris terakhir puisi ini adalah ungkapan metaforis yang mempunyai maksud bahwa, tidak ada “kehidupan” kecuali bermula dari al-Hayyu (yang Maha Hidup). Dan begitu pula sebaliknya. Tidak ada “kematian” kecuali bermula dari al-Mumiitu (yang Maha Mematikan).

Pada intinya puisi ini menyiratkan bahwa, segala sesuatu sangat bergantung pada-Nya atau dalam bahasa Rumi/ eksistensi garis/amat bergantung pada/eksistensi titik/.

Rumi melukiskan kesatuan wujud Tuhan dalam puisi-puisinya. Di mana segala kegandaan dan keanekaragaman yang terkesan saling bertentangan, seperti pembagian secara dikotomis antara dua fisikal dan spiritual, telah lebur dan menyatu ke dalam kesatuan wujud itu. Atau dalam bahasa ahli sufi di sebut dengan  wihdatul wujud.

C. Penutup

Puisi sufistik adalah sastra yang menjadi medium, yang berisi pujian, syukur, cinta dan segala macam rasa terhadap Sang Maha Indah (al-Jamaal).

Rumi merupakan salah satu penyair sufistik yang menawarkan kepada masyarakat modern konsep dan gagasan tentang eksistensi manusia yang terdalam, yaitu ruh. Teknik kepuisian Rumi melalui metaforik yang berpilar pada ‘isyq ilahiyah (cinta ilahi).

 

Daftar Pustaka

Nashih Nasrullah. 2021. Magnet Keindahan Puisi Sufistik Dan Pengakuan George Bush. (Republika.co.id)

Dwiki Setiyawan. 2021. Puisi-Puisi Sufi Pilihan Karya Jalaluddin Rumi.(http://dwikisetiyawan.wordpress.com)

Abdul Hadi WM. 2004. Seruling Rumi. Matahari Press.Yogyakarta

William C. Chittick. 1974. The Sufi Doctrine of Rumi. An Intruduction. Teheran: Aryamaher University Press. Terjemah: Mulyadi Kertanegara. 1989. Rumi: Sufi dan Penyair Agung. Teraju Mizan: Bandung