TAM YANG BAIK MENDASARI VISI MISI YANG TEPAT (Esensi Pelatihan Penguatan Kepala Madrasah)

TAM YANG BAIK MENDASARI VISI MISI YANG TEPAT (Esensi Pelatihan Penguatan Kepala Madrasah)

TAM YANG BAIK MENDASARI VISI MISI YANG TEPAT

(Esensi Pelatihan Penguatan Kepala Madrasah)

Oleh: Surya Subur*

  1. PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang

Pendidikan merupakan suatu investasi pengembangan Sumber Daya Masnusia (SDM) baik secara perorangan maupun bagi masyarakat dan bangsa secara makro. Oleh sebab itu langkah-langkah investasi pengembangan perlu dipikirkan dengan mendalam dan  keputusan yang diambil adalah keputusan yang terbaik.

Analisa kebijakan pendidikan (educational policy analisis) merupakan alat bagi para pakar pendidikan, para perencana pengembangan sumber daya manusia, para penguasa, untuk membantu menghayati proses pendidikan dan pelatihan dalam membangun dan dengan demikian dapat mengambil keputusan yang tepat (Suryadi, A. & Tilaar, 1994: 42 ).

Pelaksanakan lembaga pendidikan (madrasah/sekolah) yang analisisnya kurang tepat diasumsikan telah memberikan saham bagi keterpurukan bangsa ini menuju ketertinggalan secara terstruktur dalam lembaga pendidikan itu sendiri, juga disintegrasi, depolitisasi dan sebagainya. Ini disebabkan karena paradigma pendidikan yang ada di Indonesia sekarang ini lebih diarahkan kepada kondisi kekinian saja, sehingga solusi dan pemecahan problem yang muncul juga melulu bersifat teknis-pragmatis, tidak strategis jangka panjang. Solusi teknis-pragmatis barangkali juga diperlukan, tetapi mestinya tidak mengorbankan program strategis jangka panjang. Paradigma pendidikan kita yang trial dan error yang cenderung berubah dan beraksi ketika dikritik, sudah saatnya diubah dengan pro-aktif, intensif dan strategis (Syafarudin, 2001: 32).

Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 mengamatkan bahwa: Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Mahaesa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan Undang-Undang. (UUD 1945, Penjelasan pasal 31: 16).

Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (2003: 7) yang secara jelas dan tegas menyatakan fungsi dan tujuan pendidikan sebagai berikut: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradapan bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi sumber daya manusia agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.       

Tujuan pendidikan nasional sebagaimana dikemukakan di atas tidak lain adalah visi pendidikan Indonesia untuk mengembangkan potensi sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang dimaksud adalah dalam tulisan ini adalah peserta didik yang berupaya mengembangkan potensi dirinya melalui proses pendidikan  yang tersedia dan jenis pendidikan  tertentu sehingga memiliki kompetensi sesuai dengan tuntutan jaman.

Visi pendidikan nasional yang tersirat dalam undang-undang di atas hendaknya diejawantahkan ke jenjang pendidikan di bawahnya yakni kementerian, lembaga pendidikan dan sekolah/madrasah. Salah satu tugas dan peran kepala madrasah adalah menyusun visi misi ini dengan terlebih dahulu melakukan teknik analisis manajemen pada sekolah atau madrasahnya masing-masing. Melalui TAM pendidikan ini diharapkan arah kebijakan dan pembinaan peserta didik akan lebih terarah dan menghasilkan output dan outcame peserta didik sesuai dengan keingingan bakat dan minat serta tuntutan perkembangan jaman.

Kegiatan analisis membutuhkan alat atau teknik analisis yang tepat. Dalam melakukan analisis yang lengkap sampai pada proses pengambilan keputusan yang rasional, logis dan dalam menentukan cara yang tepat,untuk mencapainya dibutuhkan beberapa alat analisis. Ada ragam alat analisis yang dapat digunakan dalam melakukan kegiatan analisis manajemen. salah satu alat yang digunakan adalah teknik analisis Strength Weakness, Opportunity Threats (SWOT).  Tulisan sederhana memberikan gambaran tentang teknik analisis manajemen (TAM) dengan fokus pada analisis SWOT. Selanjutnya  dapat membangun visi misi madrasah/sekolah yang sesuai dengan keinginan dan kemajuan berpikir manusia, dimana kegiatannya membuat rencana  pemenuhan  mutu, melaksanakan pemenuhan mutu, evaluasi/audit pemenuhan mutu dan penetapan standar mutu pendidikan madrasah. Melalui penerapan visi misi yang benar melalui TAM diharapkan memunculkan nilai-nilai karakter antara lain kemandirian, integritas, dan gotong royong kepada peserta didik.

  1. Permasalahan

Permasalahan yang dihadapi oleh lembaga pendidikan diranah pelaksana ini (sekolah/madrasah) di berbagai level adalah tidak banyak yang mengerti akan urgensinya visi misi madrasah, pandangan bahwa visi misi madrasah ini “tabu” untuk diutak-atik, bahkan ada yang beranggapan bahwa visi misi yang sudah ada jika masih baik dan relevan maka bisa saja itu dijadikan visi untuk dilanjutkan dipertahankan sampai masa bakti kepala yang ada dan tidak relevan lagi. Asumsi seperti ini banyak dipakai oleh kepala madrasah atau sekolah di berbagai jenjang pendidikan sehingga visi misi itu hanya berganti nama kepala madrasah dan tahunnya saja.

Logika cerdas dalam berpikir akan mengarah pada setiap kepala tentu akan berbeda arah dan tujuan pemikirannya atau setiap kepala akan mengemban visi misi dan tujuan individualisnya. Atau mungkin setiap kepala tidak akan mampu mencermati visi dan misi dari kepala lainnya secara detail dan rinci. Inilah permasalahan klasik pendidikan saat ini. Apalagi mengarah pada teknik analisis manajemen yang tepat. Sesungguhnya TAM yang berjalan baik akan mendasari visi misi yang tepat. Bisakah kepala madrasah/sekolah melakukan teknik analisis manajemen di madrasahnya dengan baik?

  1. Tujuan penulisan

Tulisan sederhana ini bertujuan untuk memberikan masukan atau pemikiran tentang bagaimana menganalisis kondisi madrasah/sekolah melalui teknik analisis manajemen secara menyeluruh dengan menggunakan SWOT analysis. Kemudian menyusun visi misi madrasah/sekolah sesuai dengan kondisi kekinian.

  1. KERANGKA TEORITIK

Dalam modul Pelatihan Peningkatan Kepala Sekolah diungkapkan bahwa  satu peran utama kepala sekolah sebagai pimpinan adalah pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan merupakan hasil  pemikiran yang logis dan analitis. Hasil pemikiran logis yakni berdasar fakta, data, dan informasi yang lengkap, sedangkan hasil pemikiran analitis yakni berdasar informasi yang lengkap atau komprehensif. Berdasarkan hasil analisis lingkungan, diperoleh informasi yang akurat mengenai faktor-faktor kunci keberhasilan organisasi dalam mencapai misi yang dapat digunakan sebagai dasar perumusan tujuan yang rasional, dan penyusunan strategi, program, dan kegiatan yang tepat dilakukan. Analisis lingkungan yang komprehensif menuntut kemampuan setiap pimpinan organisasi, termasuk kepala sekolah, untuk memiliki kompetensi teknik analisis manajamen secara ilmiah.

Pengertian analisis menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)adalah penguraian suatu pokok atau berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antar bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahana arti keseluruhan.Sedangkan menurut Lembaga Administrasi Negara (2008), Pengertian analisis adalah suatu proses merinci suatu objek dengan alat tertentu, ke dalam beberapa komponen yang saling berhubungan dan menilai urgensi, dukungan, dan keterkaitannya terhadap terjadinya sesuatu. Analisis ilmiah adalah suatu pemikiran analitis berdasar kaidah ilmu tertentu dalam merinci dan menilai unsur-unsur yang terdapat dalam suatu obyek.

Dengan demikian, dalam arti yang ringkas padat, analisis adalah suatu kegiatan ilmiah untuk mencari kebenaran (Aristoteles). S. Bloom dalam Taxonomy of Educational Objectives, NewYork: Longman, 1991 mengemukakan ada 3 hal utama dalam kegiatan analisis, yaitu:1) merinci suatu aspek atau masalah ke dalam beberapa elemen atau faktor yang tidak terpisahkan satu sama lain, faktor-faktor yang dirinci itu diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori atau jenis;2) adanya hubungan secara eksplisit antar elemen atau faktor yang diidentifikasi; dan3) adanya prinsip organisasional, pengaturan, dan struktur, di mana antara satu elemen dengan elemen lainnya bertautan.

Berdasarkan penjelasan di atas disimpulkan bahwa, Teknik Analisis Manajemen (TAM) adalah cara menerapkan metode ilmiah dalam merinci dan menilai keadaan lingkungan secara komprehensif guna memperoleh informasi faktor kunci keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran organisasi, sehingga menghasilkan strategi, program, kegiatan yang tepat dilakukan

SWOT Analysis

Salah satu teknik yang digunakan dalam menganalisis manajemen adalah dengan analisis SWOT. Analisis SWOT merupakan salah satu cara untuk menganalisis posisi kompetitif suatu sekolah.Untuk menilai sebuah sekolah beserta lingkungannya dapatmenggunakan teknik atau alat yang disebut “Matriks SWOT”. Dalam menyusun Matriks SWOT, para pengambil keputusan meletakkan fokus pada masalah-masalah utama, yang kemudian membantu mereka untuk merumuskan perencanaan strategi. Setiap huruf dalam kata SWOT mengandung istilah yang sangat kuat: Strength (S) = kekuatan, Weakness (W) = kelemahan, Opportunity (O) = peluang, dan Threats (T) = ancaman.

Matriks SWOT merupakan sebuah alat dalam memetakan potensi dan kekurangan sekolah untuk membantu para pengambil keputusan dalam mengembangkan empat jenis strategi, yaitu Strategi SO (kekuatan-peluang), Strategi WO (kelemahan-peluang), Strategi ST (kekuatan-ancaman) dan Strategi WT (kelemahan-ancaman).Strategi SO memanfaatkan kekuatan internal sekolah untuk menarik keuntungan dari peluang eksternal. Semua kepala sekolah tentunya menginginkan sekolah mereka berada dalam posisi di mana kekuatan internal dapat digunakan untuk mengambil keuntungan dari berbagai tren dan kejadian eksternal.

Secara umum, organisasi akan menjalankan Strategi WO, Strategi ST, atau Strategi WT untuk mencapai situasi di mana mereka dapat melaksanakan Strategi SO. Jika sebuah sekolah memiliki kelemahan yang besar, maka sekolah akan berjuang untuk mengatasinya dan mengubahnya menjadi kekuatan. Ketika sekolah organisasi dihadapkan pada ancaman yang besar, maka sekolah akan berusaha untuk menghindarinya untuk berkonsentrasi pada peluang. Strategi WO bertujuan untuk memperbaiki kelemahan internal dengan cara mengambil keuntungan dari peluang eksternal. Kadang, peluang-peluang besar muncul, tetapi sekolah memiliki kelemahan internal yang menghalanginya memanfaatkan peluang tersebut.Strategi ST menggunakan kekuatan untuk menghindari atau mengurangi dampak ancaman eksternal. Hal ini bukan berarti bahwa suatu sekolah yang kuat harus selalu menghadapi ancaman secara langsung di dalam lingkungan eksternal. Strategi WT merupakan taktik defensif yang diarahkan untuk mengurangi kelemahan internal serta menghindari ancaman eksternal. Sebuah sekolah yang menghadapi berbagai ancaman eksternal dan kelemahan internal benar-benar dalam posisi yang membahayakan. Dalam kenyataannya, sekolah semacam itu mungkin harus berjuang untuk bertahan hidup, melakukan merger, penciutan, atau memilih likuidasi.

Visi, Misi dan Tujuan

  1. adalah pandangan atau wawasan ke depan yang dijadikan cita-cita, inspirasi, motivasi, dan kekuatan bersama warga madrasah/sekolah mengenai wujud  madrasah/sekolah pada masa yang akan datang.
  2. adalah pernyataan tentang hal-hal yang digunakan sebagai acuan bagi penyusunan program madrasah/sekolah dan pengembangan kegiatan satuan-satuan unit kerja madrasah/sekolah yang terlibat, dengan penekanan pada kualitas layanan peserta didik dan mutu lulusan yang diharapkan oleh madrasah/sekolah dalam rangka mewujudkan visi madrasah/sekolah.
  3. adalah capaian kualitas yang spesifik, terukur, dapat dikerjakan, relevan, dan jelas waktu pencapaiannya, dalam rangka mewujudkan visi dan misi madrasah/sekolah. Menetapkan visi, misi, dan tujuan madrasah/sekolah merupakan salah satu tugas kepala madrasah/sekolah. Visi dan misi madrasah/sekolah merupakan tahap awal bagi madrasah/sekolah dalam membuat rencana pengembangan madrasah/sekolah lima tahun ke depan.

 

  1. TEMUAN DAN PEMBAHASAN

Dalam upaya mengembangkan madrasah/sekolah secara maksimal kepala madrasah/sekolah dituntut untuk selalu mengembangkan potensi yang ada pada dirinya dalam bentuk pengembangkan kompetensi diri. Berdasarkan Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007, kepala sekolah/madrasah paling tidak memiliki atau mengusai 5 (lima) kompetensi, yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi supervisi, kompetensi kewirausahaan dan kompetensi sosial. Seluruh kompetensi tersebut saling terkait dalam mengembangkan madrasah/sekolah. Untuk melakukan sebuah analisis manajemen terhadap sebuah madrasah/sekolah dibutuhkan dominansi kompetensi manajerial. Sikap seorang manajer sekaligus pimpinan madrasah yang tajam akan memberikan arah kemana madrasah itu dibawa.

Menganalisis sebuah madrasah haruslah bersifat holistik. Dalam sebuah diklat sering penulis katakan, manakala kita memasuki gerbang sebuah madrasah/sekolah mulailah kita melihat apa yang seharusnya kita lakukan pada pagar, halaman, teras madrasah. Manakala kita masuk ke dalam ruang kita akan berpikir apa yang harus kita kembangkan pada ruang guru, kantor, ruang kepala, ruang kelas, dan sebagainya. Juga manakala kita melihat potensi peserta didik, kita akan berpikir kemana kita mengarahkan peserta didik ini selepas ia menyelesaikan studinya di madrasah/sekolah kita. Pendek kata, mulai mulai dari halaman madrasah hingga WC dan guru-guru dan tenaga kependidikan hingga peserta didik haruslah menjadi cakupan dalam menganalisis potensi madrasah. Metodenya boleh terserah kepala madrasah, apakah melalui rangkai EDS atau apapun, yang penting hasilnya adalah visi, misi, dan tujuan yang jelas dan terarah bagi anak didik dan madrasah itu sendiri.

Melaksanakan analisis manajemen bisa saja melalui berbagai teknik, diantaranya adalah SWOT analysis. Melalui SWOT analysis akan didapatkan fakta tentang kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan bagi madrasah/sekolah yang bersangkutan. Dengan diketahuinya kekuatan internal madrasah maka ia menjadi magnit untuk menarik peluang eksternal yang ada. Ini yang dinamakan strategi SO (Strength-Opportunity). Pemanfaatan kekuatan internal untuk menarik peluang eksternal merupakan hal yang penting untuk dilakukan dan dijadikan ikon madrasah, sehingga madrasah tidak terkukung oleh kondisi yang ada melainkan ia menjadi madrasah terbuka untuk siapa saja. Di samping itu, kelamahan internal yang disadari menjadi momok bagi sekolah/madrasah bisa dijadikan senjata untuk menarik peluang eksternal. Ini yang disebut strategi WO (Weakness-Opportunity). Sehingga kelemahan madrasah bisa ditutupi oleh peluang yang ada, bisa dibantu oleh instansi terkait. Inilah keterbukaan sekolah/madrasah untuk menjadikannya lebih maju.

Strategi lainnyamerupakan strategi mengoptimalkan kekuatan internal untuk menangkis tantangan eksternal yang ada ini yang disebut dengan strategi ST (Strength-Threats). Strategi ini hanya mengandalkan kreativitas yang tinggi dengan kekuatan internal sehingga tantangan dari luar bisa dieliminir. Mengeksplor potensi sekolah/madrasah dengan berbagai aktivitas sehingga pesaing atau tantangan menjadi lemah. Atau mengatasai tantangan eksternal dengan membenahi manajemen sekolah/madrasah. Sementara strategi lainnya adalah strategi bertahan dengan kelemahan yang ada mencoba menghindari tantangan eksternal. Dikenal dengan strategi WT (Weakness-Threats). Kondisi seperti ini diperlukan kompetensi kepala madrasah yang tidak saja menguasai strategi melainkan juga mempunyai taktik untuk keluar dari kelemahan yang ada, sehingga tantangan bisa menjadi peluang.

Teknik analisis manajemen di atas tidaklah satu-satunya. Masih banyak teknik yang lain, seperti diagram fishbone, model matrik, dan sebagainya. Kesemuanya itu bertujuan untuk mencari kekuatan internal sekolah/madrasah dan sekaligus melihat kelemahan internal madrasah. Manakala kondisi real madrasah sudah kita ketahui secara detail, saatnya kepala madrasah berpikir untuk mengembangkan madrasahnya dengan terukur dan sistematis. Untuk menjadikan sasaran terukur dan sistematis diperlukan acuan yang jelas, yaitu meletakan visi, misi, dan tujuan sekolah/madrasah.

Visi misi dan tujuan sekolah/madrasah disusun berdasarkan kesepakatan dan tujuan bersama, mau dibawa kemana arah pendidikan di madrasah ini? Sikap karakter seperti apa yang akan dibentuk? Infrastruktur apa saja yang harus diutamakan untuk dibenahi baik waktu cepat atau jangka panjang? Karenanya diperlukan teknik penyusunan visi dan misi yang tepat agar konflik internal bisa dihindari.

Strategi penyusunan visi sekolah/madrasah yang mampu menghindari konflik internal adalah bisa dilakukan dengan cara berikut:

  1. Membentuk Tim Pengembang Sekolah/madrasah (TPS/M) yang terdiri atas unsur: Kepala madrasah/Sekolah, Wakil Kepala madrasah/Sekolah, Guru, Tenaga Administrasi, Komite Sekolah, Orang Tua dan para pemangku kepentingan pendidikan lainnya.
  2. Membagi tugas sesuai dengan bidangnya
  3. Berdasarkan hasil analisis Evaluasi Diri Sekolah, Analisis SWOT dan Analisis Konteks, TPS menyusun rancangan (draf) rumusan visi sekolah.
  4. Mengadakan pertemuan/rapat dengan dewan pendidikan untuk membahas rancangan (draf) visi yang disusun dan direvisi/dirumuskan berdasarkan masukan dari warga sekolah dan para pemangku kepentingan pendidikan;
  5. Menyelaraskan visi madrasah/sekolah dengan visi institusi di atasnya serta visi pendidikan nasional dengan penguatan potensi lingkungan dan budaya masyarakat;
  6. Memutuskan rumusan visi melalui rapat dewan pendidik yang dipimpin oleh Kepala Sekolah dengan memperhatikan masukan Komite sekolah. 7. Menyosialisasikan visi kepada warga sekolah dan para pemangku kepentingan pendidikan;
  7. Meninjau dan merumuskan kembali visi secara berkala sesuai perkembangan di masyarakat.

Setelah visi disusun maka tim langsung merumuskan misi madrasah/sekolah, dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Menyusun rancangan (draf) misi sekolah sebagai arah dalam mewujudkan visi sekolah sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
  2. Dalam menyusun misi madrasah/sekolah tetapkan indikator capaian dari masing-masing kata kunci dari visi yang disusun.
  3. Dari indikator yang akan dicapai rumuskan misi sekolah/madrasah.
  4. Merumuskan visi berdasarkan kepada tujuan yang akan dicapai dalam kurun waktu tertentu dan menjadi dasar program pokok madrasah/sekolah.
  5. Merumuskan misi yang menekankan pada kualitas layanan peserta didik dan mutu lulusan yang diharapkan oleh madrasah/sekolah.
  6. Merumuskan misi yang memuat pernyataan umum dan khusus yang berkaitan dengan program madrasah/sekolah.
  7. Merumuskan misi yang memberikan keluwesan dan ruang gerak pengembangan kegiatan satuan-satuan unit madrasah/sekolah yang terlibat;
  8. Memutuskan rumusan misi melalui rapat dewan pendidik yang dipimpin oleh kepala madrasah/sekolah.
  9. Menyosialisasikan misi kepada warga madrasah/sekolah dan kepada para pemangku kepentingan pendidikan.

Dengan menjalankan serangkaian kegiatan di atas maka madrasah/sekolah diharapkan mampu mengarahkan peserta didik untuk mencapai tujuan hidupnya secara maksimal. Mereka mempunyai kepastian dalam setiap langkah pendidikannya. Dengan kata lain madrasah/sekolah terhindar dari menciptakan generasi “linglung” manakala lepas dari satu jenjang madrasah/sekolah.

 

  1. PENUTUP

Strategi dalam menganalisis sebuah madrasah/sekolah diawali dengan motivasi untuk mengembangkan sekolah/madrasah secara lebih optimal. Hasrat untuk mengembangkan madrasah/sekolah lebih optimal ini merupakan sisi lain dari kepala madrasah yang sesungguhnya merupakan awal untuk melakukan kegiatan analisis.

Apapun analisis yang dilakukan pada hakikatnya bersandar pada keinginan untuk merubah madrasah/sekolah menjadi lebih baik. Analisis yang akan menetapkan visi misi dan tujuan madrasah menjadi lebih terarah.

 

DAFTAR PUSTAKA

           Bloom. S. (1991).Taxonomy of Educational Objectives. NewYork: Longman.

Direktur Jenderal Dikdasmen (2017). Pedoman Umum Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Kemendikbud.

Direktur Jenderal Dikdasmen (2017). Perangkat Instrumen Pemetaan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Kemendikbud.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2016). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 28 Tahun 2016 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah.

Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia. 2008. Teknik-teknik Analisis Manajemen Modul Diklatpim Tingkat III. Jakarta.

Sri Mulyono, dkk.,Teknik Analisis Manajemen (Modul Pelatihan Penguatan Kepala Sekolah). Jakarta: Dirjend Guru dan Tenaga Kependidikan

Tim Pengembang Bahan Pembelajaran. 2017. Penyusunan Rencana Kerja Sekolah/Madrasah (RKS/M). Karanganyar: LPPKS