E-LEARNING UNTUK PELATIHAN JARAK JAUH

E-LEARNING UNTUK PELATIHAN JARAK JAUH

O  L   E   H:

Muhammad Yudil Khairi

Widyaiswara Ahli Muda

BDK Banjarmasin

 

PENDAHULUAN

     Strategi pembelajaran merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang mengalami perkembangan sedemikian pesat, merupakan peluang sekaligus tantangan bagi setiap instansi pemerintah untuk mengembangkan sumber daya aparatur lingkungannya.

     Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama beberapa tahun terakhir ini mengembangkan E-Learning (sistem pembelajaran elektronik) yang dilaksanakan dalam program Pelatihan Jarak Jauh (DJJ). Salah satu tujuan PJJ adalah memperbanyak kesempatan pegawai negeri sipil untuk mengikuti pelatihan, untuk mengembangkan kualitas dan kinerja di tempat tugasnya masing-masing.

     E-Learning  dianggap sebagai salah satu alternatif dalam sistem penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan. Hal ini disebabkan oleh beberapa keunggulan dan kelebihan yang dimiliki tekhnologi informasi yang saat ini telah berkembang demikian pesat, sehingga memungkinkan penggunanya dapat bekerja secara cepat, akurat, dan memiliki jaringan yang sangat luas.

      Perubahan paradigma pembelajaran dari teacher-centered ke learner-centered mendorong pendidikan dan pelatihan untuk menggunakan E-learning sebagai salah satu metode pembelajaran yang dipersepsikan bersifat learner centered. Pemanfaatan E-Learning diharapkan dapat memotivasi peningkatan kualitas pembelajaran dan materi ajar, kualitas aktivitas dan kemandirian peserta diklat, serta komunikasi antara Widyaswara dengan peserta pelatihan, maupun antar peserta pelatihan.

       Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia pada tahun 2018 mengeluarkan peraturan nomor 8 tahun 2018 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pengembangan Kompetensi Pegawai Negeri Sipil melalui E-Learning. Sementara itu pada tahun 2020, Kementerian Agama mengeluarkan Peraturan Menteri Agama Nomor 19 tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Pelatihan Sumber Daya Manusia pada Kementerian Agama. Pada PMA Nomor 19 tahun 2020 dijelaskan bahwa salahsatu bentuk pelatihan klasikal adalah Pelatihan Jarak Jauh (PJJ).

PERMASALAHAN

Dari uraian diatas, yang menjadi permasalahan dalam tulisan ini adalah:

  1. Apa pengertian E-learning?

  2. Bagaimana Karakteristik dan Manfaat E-Learning?

  3. Apa Kelebihan dan Kekurangan E-Learning?

  4. Apa saja jenis dan komponen E-Learning?

  5. Bagaimana penerapan/strategi E-Learning  pada penyelenggaraan Pelatihan Jarak Jauh?

 

PEMBAHASAN

  1. Pengertian E-learning.

     E-learning adalah sebuah proses pembelajaran yang berbasis elektronik. Salah satu media yang digunakan adalah jaringan komputer. Dengan dikembangkannya di jaringan komputer memungkinkan untuk dikembangkan dalam bentuk berbasis web, sehingga kemudian dikembangkan ke jaringan komputer yang lebih luas yaitu internet. Penyajian e-learning berbasis web ini bisa menjadi lebih interaktif. Sistem e-learning ini tidak memiliki batasan akses, inilah yang memungkinkan pelatihan bisa dilakukan lebih banyak waktu.

Banyak pakar yang menguraikan definisi E-learning dari berbagai sudut pandang. Definisi yang sering digunakan banyak pihak adalah sebagai berikut :

  • (Michael, 2013:27)

E-Learning  adalah Pembelajaran yang disusun dengan tujuan menggunakan suatu sistem elektronik atau juga komputer sehingga mampu untuk mendukung suatu proses pembelajaran .

  • (Chandrawati, 2010)

E-Learning adalah Suatu proses pembelajaran jarak jauh dengan cara menggabungkan prinsip-prinsip didalam proses suatu pembelajaran dengan teknologi .

  • (Ardiansyah, 2013)

E-Learning  adalah suatu sistem pembelajaran yang digunakan sebagai sarana proses belajar mengajar yang dilaksanakan tanpa harus bertatap muka dengan secara langsung antara pendidik dengan siswa/i .

 

        2. Bagaimana Karakteristik dan Manfaat E-Learning?

Menurut Rosenberg (2001) karakteristik E-learning tersebut bersifat jaringan, yang membuatnya mampu untuk dapat memperbaiki dengan secara cepat, menyimpan atau juga memunculkan kembali, mendistribusikan, serta juga sharing pembelajaran juga informasi.

Karakteristik E-learning menurut Nursalam (2008:135) antara lain :

  • Menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials) yang kemudian disimpan didalan komputer, sehingga dapat untuk diakses oleh doesen serta mahasiswa kapan saja dan dimanapun;
  • Memanfaatkan suatu jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar, serta hal-hal yang berkaitan dengan suatu administrasi pendidikan dapat dilihat pada tiap-tiap  computer;
  • Memanfaatkan suatu jasa teknologi elektronik;
  • Memanfaatkan suatu keunggulan komputer (digital media serta juga komputer networks).

Adapun manfaat E-learning antara lain sebagai berikut :

  • Efisiensi Biaya.

E-Learning tersebut memberi efisiensi biaya bagi administrasi penyelenggarannya, efisiensi penyediaan sarana serta juga fasilitas fisik untuk dapat belajar serta juga efisiensi biaya bagi pembelajar ialah biaya transportasi serta akomodasi.

  • Fleksibel.

E-Learning  tersebut memberi fleksibilitas didalam memilih waktu serta juga tempat untuk dapat mengakses perjalanan.

  • Belajar Mandiri.

E-Learning tersebut memberi kesempatan bagi pembelajar dengan secara mandiri memegang seluruh kendali atas keberhasilan dalam proses belajar.

 

Menurut Pranoto, dkk (2009:309) manfaat E-leraning antara lain sebagai berikut:

  • Meningkatkan suatu partisipasi aktif dari mahasiswa;
  • Meningkatkan suatu kemampuan belajar mandiri mahasiswa;
  • Meningkatkan suatu kualitas materi pendidik serta juga pelatihan;
  • Meningkatkan suatu  kemampuan untuk dapat menampilkan informasi dengan perangkat teknologi informasi, yang mana dengan perangkat biasa akan sulit dilakukan.

 

       3. Apa Kelebihan dan Kekurangan E-Learning?

Kelebihan E-learning ialah memberikan fleksibilitas, interaktivitas, kecepatan, visualisasi melalui berbagai kelebihan dari masing-masing media (Sujana, 2005 : 253 ). Menurut L. Tjokro (2009:187), E-learning memiliki banyak kelebihan yaitu :

  • Lebih mudah untuk diserap, artinya ialah menggunakan fasilitas multimedia yang berupa suatu gambar, teks, animasi, suara, dan juga  video.
  • Jauh lebih efektif didalam biaya, artinya ialah tidak perlu instruktur, tidak perlu juga minimum audiensi, dapat dimana saja, dan lain sebagainya
  • Jauh lebih ringkas, artinya ialah tidak banyak mengandung formalitas kelas, langsung kedalam suatu pokok bahasan, mata pelajaran/pelatihan yang sesuai kebutuhan.
  • Tersedia dalam 24 jam per hari , artinya ialah penguaasaan dalam materi tergantung pada semangat dan juga daya serap siswa/peserta Diklat, bisa dimonitor, bisa diuji dengan e-test.

Menurut L. Gavrilova (2006:354) Kekurangan E-learning  adalah suatu pembelajaran dengan menggunakan model E-learning tersebut membutuhkan peralatan tambahan yang lebih (seperti contohnya komputer, monitor, keyboard, dan lain sebagainya).

Kekurangan E-learning tersebut yang diuraikan oleh Nursalam (2008:140) antara lain sebagai berikut :

•  Kurangnya suatu interaksi antara pengajar serta juga pelajar atau juga bahkan antar pelajar itu sendiri;

•  Kecenderungan tersebut dapat mengabaikan aspek akademik atau juga aspek sosial dan juga sebaliknya membuat tumbuhnya aspek bisnis atau juga komersial;

•  Proses belajar mengajar tersebut cenderung kearah suatu pelatihan dari pada pendidikan itu sendiri;

•  Berubahnya suatu peran pengajar dari yang semula menguasai mengenai teknik pembelajaran yang konvensional, sekarang juga dituntut untuk dapat mengetahui teknik pembelajaran menggunakan ICT (information, communication, dan juga technology);

•  Tidak pada semua tempat tersedia siati fasilitas internet;

•  Kurangnya suatu sumber daya manusia yang mengerti internet;

•  Kurangnya penguasaan dalam bahasa computer;

•  Akses dikomputer yang memadai tersebut dapat menjadi masalah sendiri bagi pelajar;

•  Peserta didik tersebut mungkin dapat bisa frustasi apabila tidak dapat mengakses grafik, gambar, sertavideo dikarenakan peralatan (software dan hardware) yang tidak memadai;

•  Tersedianya suatu infrastruktur yang dapat dipenuhi;

•  Informasi tersebut bervariasi didalam kualitas dan juga akurasi sehingga panduan dan juga fitur pertanyaan diperlukan;

•  Peserta didik tersebut dapat merasa terisolasi.

 

          4. Apa saja jenis dan komponen E-Learning?

Jenis E-learning berdasarkan teknologi informatika yang digunakan dan dikelompokkan berdasarkan basis teknologi yaitu :

1. Computer Based Training (CBT)

Sistem ini mulai berkembang di tahun 80-an dan masih berkembang terus sampai sekarang. Hal ini ditunjang anatar lain oleh perkembangan sistem animasi yang kian menarik dan realistis (misalnya sistem animasi 3 dimensi).

2. Web Based Training (WBT)

       Sistem ini merupakan perkembangan lanjutan dari CBT dan berbasis teknologi internet. Sehingga dengan menggunakan konsep ini, dapat terjadi komunikasi dua arah antar pengguna. Namun lancarnya proses belajar ini bergantung kepada infrastruktur jaringan kecepatan tinggi. Kendala penerapan konsep ini terletak pada kenyataan bahwa jaringan internet di negara kita masih belum merata.

Pada dasarnya, terdapat 3 alternatif model kegiatan pembelajaran yang dapat dipilih, yaitu :

a. Sepenuhnya secara tatap muka (konvensional);

b. Sebagian secara tatap muka dan sebagian lagi melalui internet;

c. Sepenuhnya melalui internet.

Salah satu komponen WBT yang sangat digemari adalah video-conferencing, yaitu dimana siswa dan guru dapat langsung mendiskusikan semua hal tanpa harus bertemu muka secara langsung.

Komponen yang membentuk e-learning (Romisatriawahono, 2008) adalah:

a. Infrastruktur e-learning

       Infrastruktur e-learning merupakan peralatan yang digunakan dalam e-learning yang dapat berupa Personal Computer ((PC), yakni komputer yang dimiliki secara pribadi (Febrian, 2004)), jaringan komputer (yakni, kumpulan dari sejumlah perangkat berupa komputer, hub, switch, router, atau perangkat jaringan lainnya yang terhubung dengan menggunakan media komunikasi tertentu (Wagito, 2005)

       Internet (merupakan singkatan dari Interconnection Networking yang diartikan sebagai komputer-komputer yang terhubung di seluruh dunia (Febrian, 2004)) dan perlengkapan multimedia (alat-alat media yang menggabungkan dua unsur atau lebih media yang terdiri dari teks, grafis, gambar, foto, audio, video dan animasi secara terintegrasi (Febrian, 2004). Termasuk di dalamnya peralatan teleconference (pertemuan jarak jauh antara beberapa orang yang fisiknya berada pada lokasi yang berbeda secara geografis (Febrian, 2004)) apabila kita memberikan layanan synchronous learning yakni proses pembelajaran terjadi pada saat yang sama ketika pengajar sedang mengajar dan murid sedang belajar melalui teleconference.

b. Sistem dan aplikasi e-learning

      Sistem dan aplikasi e-learning yang sering disebut dengan Learning Management System (LMS), yang merupakan sistem perangkat lunak yang mem-virtualisasi proses belajar mengajar konvensional untuk administrasi, dokumentasi, laporan suatu program pelatihan, ruangan kelas dan peristiwa online, program e-learning, dan konten pelatihan (Ellis, 2009)), misalnya, segala fitur yang berhubungan dengan manajemen proses belajar mengajar seperti bagaimana manajemen kelas, pembuatan materi atau konten, forum diskusi, sistem penilaian (rapor), serta sistem ujian online yang semuanya terakses dengan internet.

c. Konten e-learning

      Konten e-learning merupakan konten dan bahan ajar yang ada pada e-learning sistem (Learning Management System). Konten dan bahan ajar ini bisa dalam bentuk misalnya Multimedia-based Content (konten berbentuk multimedia interaktif seperti multimedia pembelajaran yang memungkinkan kita menggunakan mouse, keyboard untuk mengoperasikannya) atau Text-based Content (konten berbentuk teks seperti pada buku pelajaran yang ada di wikipedia.org, ilmukomputer.com, dsb.). Biasa disimpan dalam Learning Management System (LMS) sehingga dapat dijalankan oleh peserta didik kapan pun dan dimana pun.

        Sedangkan ’aktor’ yang ada dalam pelaksanakan e-learning boleh dikatakan sama dengan proses belajar mengajar konvensional, yaitu perlu adanya pengajar (dosen) yang membimbing siswa (mahasiswa) yang menerima bahan ajar dan administrator yang mengelola administrasi dan proses belajar mengajar.

 

            5. Bagaimana penerapan/strategi E-Learning  pada penyelenggaraan Pelatihan Jarak Jauh?

  1. Perencanaan Pembelajaran

Perencanaan pembelajaran pada pelatihan jarak jauh meliputi komponen sebagai berikut:

  1. Content, obyek dan materi pembelajaran yang disampaikan dalam mata pelatihan yang dilaksanakan selama diklat berlangsung;
  2. Sistem penyampaian dengan berbagai metode yang diterapkan;
  3. Interaksi antara peserta dengan Widyaiswara, peserta dengan peserta lain.

      Pada perencanaan pembelajaran Pelatihan Jarak Jauh (PJJ), content memuat pengaturan tentang hal-hal yang berkaitan dengan objek dan materi pembelajaran. Pengaturan ini meliputi:

  1. Urutan pembelajaran yang diperoleh dari analisis kompetensi Widyaiswara, perumusan pengalaman mengajar, serta hubungan antara materi pembelajaran dan waktu pembelajaran (sesi);
  2. Penyampaian materi pembelajaran (uraian informasi keilmuan) dapat berupa teks, gambar, video, audio, simulasi, presentasi elektronik, hubungan dengan sumber lain;
  3. Kegiatan interaksi dapat berupa forum diskusi, teleconference, tatap muka, penggunaan e-mail dan dimaksudkan untuk interaksi antar peserta dan Widyaiswara, menstimulasi peserta pelatihan untuk terlibat dalam proses belajar secara aktif, serta memberi keleluasaan bagi setiap peserta untuk berinisiatif mencari sumber belajar di internet;
  4. Tugas dan tes dapat berupa tugas belajar, tes mandiri, kuis, ujian, dan sebagainya.

 

B. Perancangan Materi

     Kegiatan perancangan materi adalah kegiatan yang ditujukan untuk mencapai tujuan pembelajaran pada pelatihan. Dalam perancangan materi pelatihan, yang juga perlu diperhatikan adalah jalur pembelajaran (learning path). Jalur pembelajaran ini berkaitan dengan melakukan kontrol terhadap pelaksanaan pelatihan, memperhatikan tanggapan (respon) dari peserta maupun pihak lain, melakukan modifikasi metode yang digunakan berupa pengembangan konsep pelatihan jarak jauh sehingga selalu terjadi proses perbaikan-perbaikan secara kontinyu.

Jalur pembelajaran berguna untuk membimbing peserta pelatihan untuk memulai proses pelatihan jarak jauh dari yang termudah menuju yang tersulit, dari yang kecil menuju yang besar, dari yang sederhana menuju yang rumit, dari tingkat berpikir dangkal ke tingkat berpikir dalam, dan dari teacher led learning menjadi student intiated learning.

Dalam merancang mata pelatihan yang dilaksanakan, haruslah mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut:

          1. Penyelenggara pelatihan harus menyiapkan infrastruktur pelatihan jarak jauh.

     Menyiapkan infrastruktur e-learning yang handal merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam melakukan implementasi e-learning. Supaya pelaksanaan pelatihan jarak jauh berjalan optimal, terdapat 4 komponen utama dalam infrastruktur pendukung e-learning yang harus diperhatikan yakni perangkat, platform (kerangka umum), maintenance, dan manajemen.

2. Kesiapan calon peserta pelatihan jarak jauh.

Salah satu kendala pelaksanaan pelatihan jarak jauh adalah kemampuan calon peserta pelatihan dalam mengoperasionalkan e-learning.

3. Kompetensi Widyaiswara dalam mengampu pelatihan jarak jauh.

Widyaiswara memegang kunci penting atas penyelenggaraan pelatihan jarak jauh, sehingga widyaiswara harus menguasai konsep e-learning.

4. Perencanaan mata pelatihan.

Mata pelatihan yang dilaksanakan pada pelatihan jarak jauh sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan pelatihan jarak jauh.

C. Penyampaian dan Interaksi

      Dalam pelaksanaan metode pembelajaran e-learning perlu diperhatikan macam-macam strategi yang dapat digunakan, antara lain tanya dan jawab, forum diskusi, kegiatan peserta pelatihan, tes/kuis, contoh dan analogi serta review dari peserta.

      Untuk mengimplementasikan e-learning dalam pelatihan jarak jauh, salah satu poin utama yang harus dilakukan adalah mempersiapkan sistemnya terlebih dahulu. Sebuah institusi yang menggunakan learning management system yang memanfaatkan aplikasi moodle yang bersifat opensource, software ini memiliki keunggulan (tidak perlu membayar).

     Setelah mempersiapkan sistem moodle atau aplikasi program yang lain, optimalisasi empat komponen penting dalam membangun budaya belajar secara online. Tahapan selanjutnya adalah pembekalan bagi Widyaiswara. Pembekalan ini bisa dilakukan dengan cara mengikutsertakan para Widyaiswara kedalam kegiatan pelatihan atau sosialisai penggunaan e-learning.

       Model pembelajaran secara online berakibat terjadinya perubahan budaya belajar dalam konteks sistematika pembelajarannya. Hal ini membuat peserta dituntut lebih banyak belajar secara mandiri dan ini relevan dengan tuntutan kemajuan tekhnologi saat ini.

Disetiap akhir kegiatan program pelatihan jarak jauh, dilakukan evaluasi yang dilaksanakan sebanyak 2 tahapan, yakni:

  1. Evaluasi terhadap hasil pelatihan berupa:
  1. Prosedur pengembangan soal ujian akhir pelatihan;
  2. Prosedur administrasi ujian (offline/onsite/on campuss dan online);
  3. Instrumen penilaian yang digunakan:
  1. Untuk keterampilan kognitif : tes tertulis seperti kuis, esai, pilihan ganda;
  2. Untuk keterampilan psikomotor/praktek : tes kinerja (performance test);
  3. Untuk keterampilan affektif : daftar observasi dan studi kasus.

       2. Evaluasi terhadap proses pelatihan berupa:

  1. Evaluasi oleh peserta pelatihan terhadap mata pelatihan, proses interaksi pembelajaran, tekhnik penyampaian, kinerja Widyaiswara, dukungan pembelajaran , dan administrasi yang tersedia;
  2. Evaluasi oleh Widyaiswara dan Panitia;
  3. Tracer study yakni berupa evaluasi oleh para pengguna/lulusan  untuk perbaikan dan keberlangsungan program.

 

PENUTUP

  1. Kesimpulan

     Dari paparan di atas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa E-learning adalah sebuah proses pembelajaran yang berbasis elektronik, yang salah satu media yang digunakan adalah jaringan komputer. Dengan dikembangkannya di jaringan komputer memungkinkan untuk dikembangkan dalam bentuk berbasis web, sehingga kemudian dikembangkan ke jaringan komputer yang lebih luas yaitu internet. Penyajian e-learning berbasis web ini bisa menjadi lebih interaktif. Sistem e-learning ini tidak memiliki batasan akses, inilah yang memungkinkan pelatihan bisa dilakukan lebih banyak waktu.

     Karakteristik e-learning memiliki kekhususan tersendiri dengan berbagai keunggulanya, yaitu menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials) yang kemudian disimpan didalam komputer, sehingga dapat untuk diakses oleh siapa saja. Jika dalam dunia pelatihan, widyaiswara dapat mengakses kapan saja dan dimanapun; memanfaatkan suatu jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar, serta hal-hal yang berkaitan dengan suatu administrasi pendidikan dapat dilihat pada tiap-tiap  komputer; memanfaatkan suatu jasa teknologi elektronik; dan memanfaatkan suatu keunggulan komputer (digital media serta juga komputer networks).

       2.Saran

Dengan memahami apa itu e-learning dan karakteristik serta keunggulannya, maka penulis dapat menyarankan agar semua ASN yang berada dalam lembaga pelatihan hendaknya ‘mendekatkan’ diri pada jaringan digitalisasi. Dengan demikian, semua ASN akan memahami keunggulan dari program ini. Untuk lembaga pelatihan sendiri manakala ASN sudah semuanya melek akan digitalisasi komputer ini, maka program pelatihan akan semakin mudah, misalnya dimanfaatkan sebagai penyelenggaraan Pelatihan Jarak Jauh (PJJ).

 

REFERENSI

Darin E. Hartley. Selling e Learning, American Society for Training and Development.2001

Glossary. Of e-learning Terms. Lean Frame.com. 2001

Hartono Zhuang, Empy Effendy. E-learning: konsep dan Aplikasi, Andi Publisher. 20015

Peraturan Lembaga Administrasi Negara Nomor 8 tahun 2018 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pengembangan Kompetensi Pegawai Negeri Sipil melalui E-Learning

Peraturan Menteri Agama Nomor 19 tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Pelatihan Sumber Daya Manusia pada Kementerian Agama.

www.gurupendidikan.co.id (diakses 24 Juni 2021)